Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat dari Radikalisme (1)

Dipublikasikan oleh : Pustaka Madura pada 07 November 2017 |


Esai Addarori Ibnu Wardi

Akhir-akhir ini, 'perang' antara mereka yang mengaku paling Islam dan mereka yang mengaku paling Indonesia terus semakin mengkhawatirkan. Merasa paling Islam dan paling Indonesia, sama-sama sikap yang sebenarnya perlu Intropeksi kembali. Saya akan menulis kritikan pada diri saya sendiri karena kegagalan dalam bersikap menghadapi kelompok yang merasa paling Islam.

Begini, saya meyakini benar, bahwa fenomena ustaz berceramah keagamaan akhir-akhir ini mengarah pada gerakan yang kita beri merk 'radikalisme', dan saya mengamini kalau kegiatan ini mengkhawatirkan. (Kenapa saya beri tanda kutip? silahkan kalian cari literatur sendiri tetang apa itu radikalisme, salah satunya tulisan K, Muhammad Mushthafa yang pernah diterbitkan di Kompas. cari di Blognya rindupulang.blogspot.com).

beberapa bulan saya hidup didaerah yang Fenomena seperti diatas luar biasa tumbuh subur. Semasa saya di Madura, Organisasi HTI bisa dibilang 'hanya' sekian persen, dan selebihnya NU, Muhammadiyah, SI. Disini, kader HTI itu banyak, apalagi Organisasi Intra kampus yang mempuyai pemahaman yang mirip. Belum lagi, (Mohon maaf) Kader NU yang pahamnya mirip seperti mereka itu juga banyak lo disini.

Saya mencoba amati, dan memberikan sedikit 'ring' untuk apa yang saya amati. Kegiatan mereka yang disebut dakwah dilakukan dengan cara yang cukup sederhana. Mereka mau menghidupkan masjid dengan mau secara cuma-cuma menjadi muadzin, disaat orang yang pernah nyantri seperti saya ini enggan untuk sholat. Bahkan, untuk adzanpun, harus ada bayaran. mau bukti? Silahkan ke Masjid Jamik yang ada dikota-kota kalian.

Selain itu, mereka mau tampil menjadi Imam Salat disaat imam aslinya berhalangan. Bahkan tak tanggung-tanggung, mereka mau mengisi pengajian meski kita menilai mereka Ilmunya pas-pasan. Sementara saya yang merasa pernah nyantri, mengaku dekat dengan Ulama', merasa lebih pintar dalam beragama ketimbang mereka, justru menganggap hal itu kacangan dan bukan level kita. Boro-boro menghidupkan masjid, kalau moodnya lagi bagus, paling ya jum'atan, kalau enggak, ya tidur di kamar masing-masing.

Bersambung:
  1. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat dari Radikalisme (1)
  2. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (2)
  3. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (3)
  4. Menjaga Masjid Menjaga Masyarakat Dari Radikalisme (4)

Kabar Pilihan

    Jurnalisme Warga

    Budaya Madura

    Lihat seluruh kategori Budaya Madura»

    Wisata Madura

    Lihat seluruh kategori Wisata Madura»

    Dunia Wanita

    Lihat seluruh kategori Dunia Wanita»

    Hidup Sehat

    Lihat seluruh kategori Hidup Sehat»

    Akar Rumput

    Lihat seluruh kategori Akar Rumput»

    Kiat Kreatif

    Lihat seluruh kategori Kiat Kreatif»