Ibu Nurhayati Tak Pernah Patah Semangat dan Putus Asa
Prinsip Tanpa Takut Gagal Adalah Keindahan

Dipublikasikan oleh : Pustaka Madura pada 28 November 2018 |


Ibu Nurhayati
Banyak orang mengatakan bahwa usaha adalah suatu cara atau jalan menuju yang diinginkan. Dan manusia tidak terlepas dari proses usaha. Diam sekalipun masih bisa dikatakan sebagai usaha, dengan catatan diamnya adalah berpikir. Tak ada yang tak bisa dilalui dengan usaha ketika diiringi dengan niat yang baik dan doa yang tulus. 

Sudah sering pula terdengar diberbagai kalimat, bahwa doa tanpa usaha omong kosong dan usaha tanpa doa adalah sombong. Usaha yang sejalan dengan semangat yang ditopang oleh kemampuan yaitu potensi dan kreativitas akan terwujud sebuah proses penerimaan dalam menjalani kehidupan
Usaha tidak harus banyak dengan hitung-hitungan angka dan segala macam pernak-pernik permodalan. Dengan berpikir bahwa ini tidak dengan tinggal diam atau berpangku tangan adalah modal yang sangat besar untuk mewujudkam sebuah usaha. Dan sesuatu yang sangat bermakna dalam kata sukses yaitu usaha yang dimulai dari titik nol hingga menghasilkan angka-angka lebih tinggi dari nol. 

Dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal terkecil begitu banyak berserakan, tinggal bagaimana sumber daya manusia itu sendiri pandai-pandai memilah dan memilih untuk memulai memacu potensi dan kreativitas. Paling gampang disekitar kita, yaitu dengan daya otak dan nalar menjadikan sesuatu yang biasa menjadi sebuah sesuatu yang luar biasa, atau paling tidak menjadi sesuatu yang menghasilkan keuntungan. 

Contoh kecil saja, melihat daun sayur mayur, ubi-ubian, buah-buahan dan sebagainya. Apabila itu diolah dengan pengembangan yang tidak seperti olahan pada umumnya, sudah bisa dikatakan mencoba usaha olahan bahan sama tapi beda model serta rasanya. Prinsipnya mencoba tanpa takut gagal adalah keindahan daripada tidak sama sekali. 

Zaman yang semakin canggih menuntut untuk inovasi-inovasi kreativitas. Sekalipun usaha pada umumnya juga dituntut untuk meningkatkan kualitas. Karena usaha dan rasa tak bisa terpisahkan untuk menghasilkan keuntungan dan kesuksesan yang ingin dicapai. 

Belajar dan terus belajar pada realitas disekitar yang memberi inspirasi kemajuan, akan menjadikan diri tidak berpangku tangan dengan segala keluh kesah dan mimpi-mimpi belaka. Dan kodrat alam itu bahwa manusia yang menanam, maka ia yang akan memetik buahnya. 

Salah satu produk yang dihasilkan
Dalam persaingan dan pergulatan hidup ini, memaksa realitas harus bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas dan bekerja tuntas yang kebalikannya bukan bekerja malas. Seperti kebanyakan orang bilang, tidak ada makan siang gratis. Namun bukan berarti juga harus dipaksakan. 

Berbicara usaha, tentu banyak sekali macam dan jalannya. Ada usaha yang dilakukan mandiri dan ada pula yang dilakukan secara bersama-sama. Usaha disini adalah usaha yang menghasilkan keuntungan. Dan tulisan ini mengurai sebuah yang dikelola dari rumah sendiri yaitu usaha home industri skala kecil atau menengah kebawah.

Saronggi merupakan kecamatan yang yang ada di kabupaten Sumenep. Kecamatan Saronggi dikenal dengan daerah yang melahirkan budaya seni yaitu ludruk atau ketoprak yang berasal dari desa Tanjung Saronggi. Orang Sumenep pasti mengenal Rukun Family dan Rukun Karya sebagai ludruk yang paling populer di kabupaten Sumenep. Namun ada juga kecamatan lain seperti Kalianget. 

Saronggi juga satu-satunya daerah yang angkutan transportasinya masih tetap menggunakan moda yang lama yaitu pick up chevroolet dan sampai sekarang masih ada. Pun juga Saronggi menjadi daerah yang menjadi pintu masuk menuju pantai sembilan dipulau Gili Genting yaitu melewati pelabuhan Tanjung Saronggi. 

Di sebuah Dusun Paddeg Desa Saroka Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep bisa kita temukan usaha home industri yang dikelola oleh warga. Berbagai macam usaha olahan makanan yang dikerjakan, mulai macam-macam kue, jajan, kripik, krupuk dan sebagainya.

Ibu Nurhayati yang berusia 50 tahun lebih salah satu orang di dusun tersebut yang melakukan usaha home industri. Usaha berupa olahan makanan ringan seperti kripik dari berbagai buah antara lain singkong, ketela dan sukun sudah dirintis sejak sepuluh tahun yang lalu, sekitar tahun 2000.

Awalnya ibu Nurhayati dilakukan sendiri, setelah berjalan lancar meski mengikuti arus musim alias musiman memanfaatkan tetangga sekitar untuk bisa bekerja sebagai karyawan. Semangat yang tinggi meyakini ibu Nurhayati bahwa sesuatu yang dilakukan selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, bisa juga untuk mwmbantu orang lain mendapatkan penghasilan sampingan.

Dunia bisnis itu tak jauh beda dengan air laut, pasang surut sudah biasa terjadi dan dialami para pelaku bisnis. Disaat usaha laris manis tentunya bukan hanya ibu Nurhayati yang senang, melainkan para karyawan bisa bersemangat bekerja. 

Salah satu produk yang dihasilkan
Dalam sehari ibu Nurhayati bisa menghasilkan keuntungan kurang lebih 150 ribu. Namun bila bahan dasar menipis atau habis atau juga busuk, biasanya hasil juga berkurang. Dan ibu Nurhayati tidak mengejar bahan harus ada terus dan tersedia, tetapi ia mengikuti musim yang ada. Kala musim pisang, olahan pisang yang digarap, musim ubi-ubian dan lainnya, bahan itulah yang diolah. 

Ibu Nurhayati untuk mendapatkan bahan dasar harus mencari ke pasar kabupaten yaitu pasar Anom Sumenep. Memilah dan memilih bahan dasar untuk menjaga kualitas olahan adalah yang utama bagi ibu Nurhayati. Ibu Nurhayati berkeyakinan hanya dengan menjaga kualitas khusus bahan dasar dan rasa mampu meningkatkan daya beli konsumen. 

Bila berbisnis penuh dengan rekayasa atau tipu daya, maka jangan harap keuntungan dan kesuksesan bisa dimiliki. Sedikit keuntungan tapi dengan cara yang realistis akan lebih bernilai daripada banyak keuntungan tapi dengan cara-cara tidak baik. 

Ibu Nurhayati tidak pernah patah semangat dan putus asa, ini dibuktikan dengan sampai detik ini usaha home industrinya masih terus berjalan. Sudah sekitar 18 tahun lebih dijalani dan ditekuni. Ibu Nurhayati hanya melayani dengan cara olahan itu dikirim ke pasar kabupaten, ada juga yang beli langsung ke rumahnya dan ada juga yang melalui via online yang lagi marak dengan dibantu putra putrinya. 

Tentu selama itu ibu Nurhayati tidak luput dengan suka duka dan untung rugi. Tapi tekun dan telaten serta dijalani dengan ikhlas usahanya tak lekang oleh waktu. Dan yang utama adalah kualitas dari hasil olahan itu yang terus dijaga hingga kini. Dan ibu Nurhayati sudah paham betul bahan dasar yang berkualitas dari daerah mana saja. Seperti buah sukun, ibu Nurhayati lebih memilih yang dari daerah Talango dan Sepudi, karena daerah itu sukunnya lebih bagus dari daerah lainnya. 

Ibu Nurhayati tidak memberikan nama atau label dalam usaha home industrinya, bukan berarti tidak berusaha untuk mendaftarkan. Sudah sering dilakukan dan sering mencoba, namun selalu gagal yang didapatkan. Bagi ibu Nurhayati yang terpenting usahanya berguna untuk kebutuhan sehari-hari dan berguna bagi orang lain terutama tetangga sekitar adalah lebih dari cukup. 

Dan bisa diketahui, di dusun Paddeg desa Saroka tidak sedikit warga memiliki usaha home induatri dengan berbagai macam olahan makanan. Ini merupakan semangat yang harus dikembangkan dan bisa dicontoh oleh kita semua. Bahwa jangan lelah untuk terus berusaha dan berusaha. 

Bagaimanapun juga Tuhan pasti selalu memberi jalan pada hambanya yang berusaha dengan jalan dan cara yang baik dan benar. Karena niat dan doa yang ikhlas tidaklah ada yang sia-sia. Semoga kita semua bisa terinspirasi dari apa yang ibu Nurhayati lakukan. 

Penulis: Moh. Rasul Mauludi

Editor : Syaf


Wisata dan Hiburan

Jurnalisme Warga

Budaya Madura

Lihat seluruh kategori Budaya Madura»

Wisata Madura

Lihat seluruh kategori Wisata Madura»

Dunia Wanita

Lihat seluruh kategori Dunia Wanita»

Hidup Sehat

Lihat seluruh kategori Hidup Sehat»

Akar Rumput

Lihat seluruh kategori Akar Rumput»

Kiat Kreatif

Lihat seluruh kategori Kiat Kreatif»