Membangkitkan Rasa Bangga pada Madura

Badrul Munir Chair (kiri) bersama penyair D. Zawawi Imron
Madura Aktual, Sumenep; Masyarakat sastra di Madura boleh berbangga, karena fenomena yang berkembang pada dekade terakhir ini mulai tampak keseriusan para sastrawan di Madura dan yang bermukim di rantau membuktikan eksistensinya dalam bidang yang digelutinya.

Salah satunya sesaat  lagi akan terbit buku sastra berupa Antologi Puisi Penyair Muda Madura “Ketam Ladam, Rumah  Ingatan”, yang digagas dan diterbitkan Lembaga Seni dan Sastra (LSS) Reboeng Jakarta.

“Ikhtiyar menghimpun puisi-puisi karya penyair Madura khususnya penyair yang berusia muda (di bawah 30 tahun) merupakan langkah yang patut diapresiasi dan disyukuri sebab agenda semacam ini akan membawa manfaat yang cukup besar bagi perkembangan sastra Madura ke depan, demikian dikatakan Badrul Munir Chair salah satu penyair asal Madura yang bermukim di Jogjakarta.

Menurut anggota Tim 9 seleksi puisi penyair muda Madura ini, selain berfungsi sebagai dokumentasi, antologi ini juga dapat menjadi ajang "silaturrahmi karya" bagi para penyair muda Madura, khususnya yang berada di tanah rantau.

“Proses penyaringan dan seleksi antologi ini yang dibuka secara luas telah berhasil memantik para penyair muda Madura yang selama ini mungkin karya-karyanya belum dipublikasikan secara luas ikut mengirimkan karyanya untuk diseleksi, sehingga secara tidak langsung proses semacam ini akan berpotensi menjaring bibit-bibit baru yang diharapkan akan berkembang di masa yang akan datang,” terang mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM

Penyair yang telah menerbitkan sejumlah buku sastra itu menyatakan, sebagai penyair Madura yang tinggal di tanah rantau, pihaknya seringkali merasa jauh dari akar/ budaya tanah kelahiran saya.

“Penyair kelahiran Madura yang berproses di tanah rantau seringkali diragukan kemaduraannya, dan bahkan kerap dianggap melupakan kemaduraannya dan lebih bangga pada tanah rantau yang kini menjadi tempat tinggalnya,” tambah pria kelahiran Sumenep, 1990 itu. 

Badrul mengatakan, gejala semacam ini juga dialami sebagian besar teman-teman penyair muda Madura di tanah rantau. “Maka saya menyambut baik upaya pendokumentasian puisi-puisi penyair muda Madura menjadi sebuah buku”

“Tema "Kemaduraan" yang diusung antologi ini menjadi pemantik bagi saya untuk lebih dalam lagi menggali nilai-nilai kearifan lokal Madura,” ungkap peraih Juara 1 lomba novel Tulis Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2013

Pihaknya berharap paling tidak memberi warna bagi khasanah perpuisian tanah air dan dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membaca masa depan perpuisian Madura.

“Insya Allah buku “Ketam Ladam, Rumah Ingatan” akan diluncurkan di Sumenep, akhir Pebruari tahun ini”(san)