Rumah Literasi Sumenep, Siap Berkreasi

Much. Khoiri saat menyajikan materi
Madura Aktual, Sumenep; Rumah Literasi Sumenep di-launching oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumenep Drs. H. A Shadik, M.Si. di aula SMA PGRI Sumenep, didampingi ketua RLS Lilik Rosida Irmawati, Sabtu (18/2). Acara dipadu dengan workshop penulisan yang diikuti oleh sekitar 100 guru SD dan sederajat.

Dalam sambutannya, Shadik menekankan, dalam pembudayaan literasi, peran guru sangat penting, di samping perlunya buku-buku bacaan yang bermutu. "Kita harus banyak membaca. Itu keteladanan bagi siswa-siswa kita," tegasnya.

Shadik mengilustrasikan betapa rendahnya minat baca masyarakat kita, terutama siswa di sekolah. Riset PISA mencatat bahwa dalam kompetensi membaca siswa kita menempati urutan buncit. Ini fakta yang sangat menyedihkan. Itulah mengapa  GLS (gerakan literasi sekolah) adalah program yang sangat strategis. "Dalam GLS guru dapat lebih luas berkreasi untuk membudayakan literasi bagi warga sekolah," pungkasnya.

Sementara itu, ketua RLS menegaskan pentingnya rumah literasi. "Mudah-mudahan rumah literasi berbuat banyak untuk pembudayaan literasi di sekolah dan masyarakat. Kami akan berkolaborasi dan bersinergi dengan pihak-pihak yang kompeten."

Di lain pihak, Sumenep adalah gudangnya penulis dan penyair negeri ini, namun budaya baca masyarakat masih perlu didongkrak. Budayawan asal Sumenep, Syaf Anton Wr, menemukan 20 judul buku kuno terkait Sumenep yang bukunya raib. Konon, buku-buku yang sebagian ditulis para penulis Sumenep tahun 1900-an itu kini di Leiden, Belanda.

Pekerjaan rumah (PR) pun menanti. "Begitu banyak kekayaan lokal yang dimiliki Sumenep, namun baru sedikit yang ditulis. Karena itu, mudah-mudahan RLS bisa melakukan riset secukupnya untuk dijadikan buku," ungkap budayawan yang selalu energik ini.

Apa saja yang mungkin bisa digarap oleh para guru anggota RLS? Begitu luas, misalnya: situs budaya, tokoh sejarah/agama, cerita rakyat, legenda, kesenian, kuliner, pesantren, Islamisasi di Sumenep, tempat wisata, fashion, ikon jagung dan garam, kisah nelayan, seribu masjid, dan sebagainya.

Bagi guru-guru diberikan pembekalan tentang GLS dan workshop penulisan oleh Much. Khoiri, dosen Unesa dan penulis 29 buku. Emcho--sapaan akrabnya--menegaskan, GLS perlu keteladanan guru dalam berbagai aspek, termasuk membaca dan menulis. "Mari tetap jaga motivasi dan semangat untuk membaca dan menulis. Ada bukti aksi dan karya yang nyata. Hanya dengan begitu, anak-anak (siswa) akan mengamalkan literasi."

Selain materi dasar-dasar penulisan, Minggu (19/2) para guru akan mendalami materi penulisan cerpen bersama dosen dan novelis Dr. M Shoim Anwar, dan penulisan puisi bersama penyair M Fauzi. Pasca workshop para guru akan bekerja mandiri, yakni menulis sesuai minatnya.* ( MUCH. KHOIRI)