Survey Akreditasi Puskesmas Robatal, Pasien Merokok Tak Dilayani

Madura_Aktual, Sampang; Seorang anak laki-laki, bernama Suib,  asal Desa Gunung Rancak, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Suib yang masih duduk di bangku kelas 2 MTs desa setempat, menjadi korban diskriminasi pelayanan Puskesmas Kecamatan Robatal.

Korban mendatangi Puskesmas setempat, lantaran dirinya dipatuk ulat berbisa saat berangkat menuju sekolah. Untuk itu pihaknya ingin berobat ke Puskesmas, namun dotolak lantaran ada acara seremonial akreditasi Puskesmas Robatal.

Dengan kejadian tersebut, orang tua Suib, Hebi (50 tahun sangat kecewa atas pelayanan kesehatan dirinya sebagai warga masyarakat. Ia merasa menjadi korban diskriminasi pelayanan masyarakat yang seharusnya mengutamakan pasien dibanding kegiatan seremoneal.

"Mendengar anak saya digigit ular beracun, saya bergegas membawanya ke Puskesmas Robatal, tapi sama petugasnya tidak diperbolehkan masuk karena ada acara di Puskesmas itu, sehingga belum bisa menerima pasien”, ungkap Hebi keapada awak media., Selasa (8/8/17)

Pihaknya mengaku tidak tahu bila ada acara tersebut di Puskesmas. Akibat ulah petugas tersebut ia terpaksa membawa anaknya ke Polindes, karena ia khawatir keselamatan anaknya.

Namun di Polindes harapannya juga runtuh, anaknya seharunya harus ditanggani oleh pihak Puskesmas namun hanya diobati dengan minimnya fasilitas Polindes.

"Saya kecewa karena pelayanan Puskesmas Robatal yang menolak pasien dalam keadaan darurat. Tolong bapak-bapak di pemerintahan segera menindaklanjuti prilaku petugas Puskesmas tersebut," keluhnya, seperti diberitakan beritajatim

Kepala Puskesmas Robatal, Totok Sudirman membenarkan adanya pasien yang ditempatkan di Polindes terdekat. Akan tetapi pihaknya membantah jika pasien itu ditolak.

"Pelayanan kepada pasien tetap berjalan, tapi memang sementara ditempatkan ke Polindes terdekat karena ada survey akreditasi, jadi setelah acara selesai pasien tersebut akan ditarik ke Puskesmas," kilahnya.

Alasan lain ditempatkan di Polindes, kata Totok lantaran keluarga pasien dinilai mokong mengikuti aturan yang berlaku di Puskesmas seperti merokok di areal Puskesmas dan membuang sampah sembarangan. Sehingga menghambat proses survey akreditasi Puskesmas.

"Banyak keluarga pasien yang mokong, disuruh jangan merokok tetap merokok. Padahal sekarang masih tahap survey akreditasi Puskesmas yang apabila lolos akreditasi maka nantinya juga bermanfaat untuk masyarakat," pungkasnya.[*]