Tugas Utama Ibu Adalah Mendidik | Suara Terkini dari Madura

Tugas Utama Ibu Adalah Mendidik

Pria dan wanita adalah dua sosok hamba Allah yang saling mendukung dan melindungi. Islam tidak mengangkat superioritas dan inferioritas antara keduanya. Tuntutan kesetaraan gender, sebenarnya sudah diatur dalam Islam.

Tersebut dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 34, bahwa ditentukan bagi para suami dalam rumah tangga sebagaipemimpin yang bertanggung jawab terhadap kehidupan dan kesejahteraan keluarganya. Sedangkan para isteri bertugas mengelola rumah tangganya, melayani suami dan merawat, membimbing serta mendidik putra-putrinya.

Dari ayat tersebut diatas dapat kita petik pelajaran bahwa sebenarnya kewajiban bekerja, mencari nafkah bukanlah kewajiban isteri. Tetapi, karena didorong oleh kebutuhan hidup yang makin membengkak, penghasilan yang diperoleh suami belum mencukupi, si isteri didorong untuk bekerja. Bahkan karena suami pun sulit mendapatkan pekerjaan, sang isteri justru yang bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.

Pada hal sang isteri bekerja, sekedar untuk membantu. Akibatnya, pendidikan anakanak di rumah terbengkalai. Semestinya pengasuhan dan pendidikan anak-anak menjadi tugas para ibu di rumah, yang kini peranannya diganti oleh pembantu. Bila saat ini banyak terjadi kenakalan remaja, hal itu disebabkan oleh salah asuh yang dilakukan oleh para pembantu rumah tangga yang memang bukan tugasnya. 

Sementara orang tua terlalu sibuk dalam bergelut dengan persoalan-persoalan kebutuhan hidup sehari-hari. Orang tua nyaris kehilangan kesempatan untuk mendidik dan menorehkan kasih sayangnya kepada putraputrinya.

Menghadapi tantangan masa depan yang makin berat bagi generasi muda, perlu pemikiran ulang terhadap peningkatan peran perempuan di abad modern sekarang ini. Bisa saja kaum ibu mengambil peran lebih besar dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuan keluarganya, namun harus diatur agendanya sehingga hak anak untuk menerima pendidikan dari ibunya dapat terpenuhi

Ibu adalah pendidik yang pertama dan utama. Dari padanya diharapkan lahir anak-anak yang dapat menjadi generasi terbaik bagi bangsanya. Dalam kehidupan nyata peran para ibu sebagai pendidik berlangsung di berbagai tempat. Di rumah sebagai ibu dari anak-anaknya. Di sekolah sebagai guru. Di Universitas sebagai dosen dan di masyarakat sebagai pekerja sosial. Apapun kapasitasnya para ibu mempunyai tugas dan tanggung jawab satu ialah sebagai pendidik anak-anaknya. Di masa depan kita menginginkan lahir generasi yang baik dan mampu melakukan peran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara, hamba Allah dan pemimpin yang memiliki integritas dan kompetensi yang memadai.

Tuntutan terlalu tinggi kepada kaum perempuan dapat menggeser peran para ibu dari tugasnya yang mulia. Emansipasi perempuan khususnya dari kaum feminisme menyulitkan posisi kaum hawa ini. Bila tujuan beraktifitas di luar rumah sekedar membantu suami memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga masih bisa dimaklumi. Inipun dilakukan karena kondisi terpaksa. Namun jika gengsi dan karir yang menjadi motivasi para ibu menghabiskan waktunya di luar rumah perlu diwaspadai.

Tatkala ayah dan ibu sama-sama sibuk di tempat masingmasing, anak-anaknya di rumah menunggu cucuran kasih sayang dari kedua orangtuanya. Bisakah sentuhan lembut sang ibu ini digantikan oleh layanan para pembantu di rumah? Pasti tidak bisa. Apalagi bila pembantu rumah tangga itu tidak memiliki kemampuan mendidik yang memadai. 

Perlu dipikirkan, bagaimana mengatur agenda kegiatan bila suami dan isteri sama-sama bekerja di luar rumah, sehingga pendidikan anak-anaknya tidak terabaikan. Menjadikan pertemuan antara orang tua dengan anak-anaknya yang berkurang frekuensinya menjadi lebih efektif merupakan seni dan kecakapan tersendiri. 

Sebagian para ibu bisa memanfaatkan waktunya yang terbatas dengan sebaik-baiknya sehingga berhasil mendidik putra-putrinya. Sifat lemah lembut dan kasih sayang mereka menjadi kunci keberhasilannya. Disinilah kelebihan kaum ibu.(RAW/MPA)
Lebih baru Lebih lama