![]() |
| Masrawi |
MTs Tanjung Saronggi, dibangun tahun 2009, dengan kondisi gedung, lokal dan kelas serta sarana dan prasarana lainnya yang baik dan representatif untuk media pembelajaran siswa. Namun demikian, dalam perkembangannya lembaga pendidikan berbasis agama terus melakukan pembenahan sesuai kebutuhan pendidikan yang lebih layak.
Kepala MTs Tanjung Saronggi, Drs. Masrawi, SPd, menyatakan meski pihaknya memiliki sarana dan parasana yang layak, namun ia terus melakukan terobosan-teroboson baru agar peserta didik dapat belajar dengan baik dan nyaman.
“Kami mengawali kerjasama dengan melibatkan masyarakat sekitar, baik perhatiannya terhadap usaha pemahaman pentingnya pendidikan maupun dalam hal perkembangan prilaku siswa”, terang Masrawi, Rabu (22/04/2015)
Dan menurutnya usaha ini berhasil, karena perhatian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan bagi anak makin mendorongnya untuk lebih maju lagi, dan bisa setara dengan kulitas pendidikan di perkotaan.
“Dari sejumlah ajang prestasi siswa, anak didik kami banyak yang berhasil dan sukses. Bahkan pada lomba drumband pada peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kemenag 2015, kami mendapat predikat juara 1”, urai Masrawi, yang menjabat di lembaga tersebut sejak 2011 lalu.
Dengan kekuatan 20 orang guru, yang umumnya dari guru PNS, sangat membantu mengelola lembaga pendidikan tersebut, lantaran pihaknya selalu mendorong agar para guru selalu aktif dan kreatif, termasuk dalam pengembangan pendidikan ekstra kurikuler.
Ekstra kurikuler juga ia tonjolkan yang selama ini siswa lebih tertarik pada kegiatan olah raga. “Kami sekarang membangun lapangan futsal yang waktu dekat dapat digunakan,” katanya.
![]() |
| Gedung MTs Tanjung Saronggi |
Dengan jumlah siswa 189 anak yang sebagian berasal dari wilayah yang jauh seperti Kecamatan Saronggi dan Bluto, Masrawi telah mensiasatinya yaitu para siswa disediakan armada angkut untuk kedua wilayah tersebut.
Ia mengakui bila sebagian rumah siswa berjarak sampai 10 kilometer, sementara mereka semuanya tidak punya alat trasnportasi seperti sepeda motor, dan bahka di wilayah ini tidak ada angkutan umum.
“Problem ini telah atasi dengan antar jemput siswa. Jadi setiap berangkat dan pulang sekolah para siswa yang berumah jauh kami sediakan dua armada mobil angkut berupa pick up tertutup. Satu dengan rute Tanjung – Saronggi, dan satunya lagi rute Tanjung – Pagar Batu (Bluto)”, jelas Masrawi yang berpenduduk Desa Tanjung itu.
Ditambahkan pula, kebutuhan mobil angkut itu, para siswa tidak ditarik bayaran atau gratis, sebab mobil yang dimiliki merupakan aset madrasah.
“Kami tidak ingin anak didik terhambat belajarnya dikarenakan kesulitan alat transportasi dan terlambat masuk sekolah”, pungkas Masrawi. (san)
Tags:
Ekspose

