Pencitraan Politik di Arena Kontes Dangdut D’Academy | Suara Terkini dari Madura

Pencitraan Politik di Arena Kontes Dangdut D’Academy

Madura Aktual;  Dinamika dan persaingan calon bupati (Cabub) dan calon wakil bupati (Cawabub) menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015 tahun ini, tampaknya sudah mulai menghangat. Dalam suhu politik seperti sekarang ini, para Cabub mulai menggerakkan sayap-sayapnya untuk lebih jauh terbang dan menjangkau sasaran.

Media massa tampaknya menjadi lahan paling strategis dalam menyampaikan pesan-pesan politik kepada masyarakat. yakni dalam pembentukan opini publik dan dalam membangun citra politik. Untuk itulah banyak pihak, khususnya para calon Presiden, Bupati maupun Bupati/Walikota memanfaatkan media sebagai ajang pencitraan.

Namun dalam fenomena terakhir, membangun pencitraan politik melalui media tidak selalu dalam bentuk pengiklanan. Ada lahan yang lebih strategis untuk dijadikan media yaitu melalui media kontes yang diminati oleh masyarakat banyak,  termasuk, kontes nyanyi dangdut D'Academy 2, yang disiarkan oleh stasiun televisi nasional.

Ketika  peserta asal daerah menempati posisi layak dalam kontes, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat daerah tersebut. Dalam kebanggan inilah tampaknya banyak celah untuk dimanfaatkan. Dan celah ini menganga lebar untuk dijadikan ajang pencitraan sebuah kepentingan.

Celah ini pula yang tampaknya paling mudah dijadikan ajang politik pencitraan, apalagi padfa daerah yang bakal memasuki agenda Pilkada. Tidaklah mengheran sejumlah pihak, termasuk para calon bupati (Cabub) berbondong-bondong menyuarakan kepedulian dan dukungan. Dengan segala cara dan usaha dipastikan akan dilakukan dengan target pencitraan.

Gerakan massa pendukung yang telah terbius oleh nilai solidaritas kedaerahan adalah keniscayaan untuk memastikan keperhatian publik, dan keperhatian itulah akan lebih massif ketika tokoh sentral daerah ikut ambil bagian dari peristiwa tersebut.

Kontes dangdut D’academy, sebuah ajang kompetisi menyanyi yang digagas salah satu media televisi nasional, tampaknya sangat efektif dijadikan lahan pencitraan. Apalagi musik dangdut yang telah mengakar ditengah masyarakat, serta diminati khususnya oleh kalangan menengah kebawah, tidaklah mustahil bila dimanfaatkan untuk pencitraan politik.

Sebab lahan ini mampu mendulang keperhatian massa cukup besar, juga mampu membangun citra daerah yang diangkat melalui nama belakang kontestan. Namun bagi politisi, peristiwa kontes ini bukan saja citra kedaerahan, tapi lebih jauh dari itu, citra politik dan citra pribadi akan hadir berbarengan pada saat pihak-pihak ikut berkontribusi  terhadap keinginan  massa itu.

Masyarakat penonton tahu, bila dalam kontes dangdut D’academy, telah menyisakan tiga peserta terbaiknya, yaitu Irwan Sumenep, Danang Banyuwangi dan Evi Masamba. Ketiganya masih akan bertarung lagi untuk menentukan posisi masing-masing. Untuk menentukan posisi teratas masih butuh tenaga baru, tenaga yang cukup besar, melipasgandakan polling sms.

Sebagaimana diketahui, tahun 2015 akan dilaksanakan Pilkada serentak disejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Sumenep, Banyuangi (Jawa Timur) dan Masamba, ibukota Kabupaten Luwu Utara (Sulawesi Selatan). Dan ketiga kontestan daerah asal mereka sama-sama memasuki wilayah yang melaksanakan Pilkada tahun 2015.

Yang menarik, dari ketiga daerah tersebut, masing-masing bupatinya ikut bertarung dalam Pilkada. Maka tak heran calom bupati incumbent dan calon bupati lainnya tidak ingin ketinggalan merefleksikan diri sebagai pihak yang paling berjasa menempatkan konstestan pada posisi yang baik.

Untuk diketahui, Cabub incumbent Sumenep, Busyro Karim, Cabub incumbent Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (dalam pelaksanaan Pilkada (09/12/2015)dan Cabub incumbent Luwu Utara (Masamba) Arifin Djunaidi (dalam pelaksanaan Pilkada (16/12/2015)

Syaf Anton Wr



Lebih baru Lebih lama