![]() |
| Salah satu bentuk pelajaran SLB Cinta Bunda |
“Pemerintah lebih fokus perhatiannya terhadap lembaga pendidikan memiliki murid dengan kondisi sehat jasmani maupun rohani," demikian dikatakan Ketua Yayasan Cinta Ananda, Agus Sumarto, Kamis, (14/05/2015)
Kerpihatinan Agus mengelola yayasan ini lantaran ia melihat banyak anak yang memiliki keterbatasan itu tidak banyak lirik, lantaran umumnya terdiri dari masyarakat tidak mampu.
“Kebanyakan orang tua merasa malu bila anaknya lahir tidak sempurna. Ini yang memprihatinkan bagi kami, dan bahkan ada yang dibirkan begitu saja, sehingga anak tersisih dari lingkungannya,” ungkap Agus.
Yayasan Cinta Ananda yang berlokasi di Jalan Blimbing Gaang IV No. 10, Kelurahan Karangduak, Kota Sumenep, Jawa Timur itu selama ini guru pembimbingnya menangani anak didiknya dengan sabar dan ikhlas, meski dalam kondisi ruang yang tidak layak disebut sekolah.
Namun demikian ke 9 guru pengajar yang ada tidak mau menyerah begitu saja, meski mereka tidak dibayar oleh yayasannya.
“Siswa disini gratis, kalaupun ada donatur yang membantu, itu semua untuk kebutuhan fasilitas belajar mengajar,” ujar Agus.
Menuju lokasi SLB Cinta Ananda harus melalui gang kecil dari jalan kelurahan. Untuk memberi kenyamanan belajar anak dalam petak ruang sebuah rumah ini memang terasa tidak nyaman, karena posisi terjepit rumah perkampungan, juga suasana yang kurang segar menghambat proses belajar mengajarnya.
“Kami harap ada pihak yang peduli menyediakan sarana yang lebih baik, agar belajar anak lebih baik l;agi,” harap Agus.
SLB Cinta Nanda seluruhnya berjumlah 35 anak, terdiri dari penyandang autis 1: 7 anak, grahita: 8 anak, kelas khusus: 6 anak, tuna rungu: 6 anak dan autis 2: 8 anak. (syafanton)
Tags:
Ekspose
