Cuaca Buruk, Hasil Tani Rumput Laut Rusak | Suara Terkini dari Madura

Cuaca Buruk, Hasil Tani Rumput Laut Rusak


Madura Aktual, Sumenep; Memasuki musim kemarau, para petani rumput laut  di Madura, Jawa Timur mulai merugi. Hal ini lantaran hasil tanam rumput lautnya  tidfak sesuai yang diharapkan.

Sulaiman, salah seorang petani rumput laut di Desa Padike, Kecamatan Talango, Sumenep, mengeluhkan hasil hasil taninya menurun drastis.

"Sudah dua pekan hasil rumput luat menurun drastis. Terus terang kami rugi karena hasil yang kami dapat tidak sesuai dengan biaya yang kami keluarkan,” katanya.Senin (2/6/2014).

Menurutnya, turunnya perolehan panen kali ini karena perubahan cuaca yang melanda daerah Sumenep, sehingga rumput laut yang ditanam petani tidak berkembang dengan baik. Bahkan banyak rumput laut milik petani musnah tak bisa dipanen.

Sedangkan Para petani rumput laut di Padike, biasanya menabur  bibit rumput laut pada ancak atau kerambah sebanyak 2 kuwintal dalam sekali tanam. Dengan bibit sebanyak itu, para petani akan memperoleh hasil panen sebanyak 4-5 kuwintal rumput laut.

Keluhan kerugian hasil tani rumput laut ini juga dirasakan  oleh Misukan. Rumput laut milik petani di Dusun Jumiang, Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Pamekasan ini rusak dan busuk akibat musim kemarau. Rumput laut milik petani yang rusak tersebut adalah rumput laut jenis lamiri yang tidak tahan terhadap cuaca panas.

"Panen tahun ini tidak berhasil karena rumput laut jenis lamiri rusak dan busuk akibat cuaca panas," kata Misukan.

Umumnya para petani yang terlanjur menabur bibit rumput laut, terpaksa memanen tanaman lebih awal, untuk menghindari kerugian yang lebih parah. Karena bila rumput lautnya terus dibiarkan tidak dipanen, tanamannya akan musnah.

Padahal ukuran normal untuk memanen rumput laut membutuhkan waktu  30 hingga 40 hari. Namun karena terjadi anomali cuaca, para petani terpaksa memanen rumputnya lautnya lebih awal, bahkan ada yang baru berumur satu minggu sudah dipanen.

Setiap kali tanam, petani rumput laut mengeluarkan biaya sekitar Rp 455 ribu per ancak, dengan modal sebanyak itu petani rumput laut akan meraup keuntungan antara Rp 600 hingga 700 ribu. Namun pada musim tanam kali ini, para petani merugi antara Rp 200 hingga Rp 300 ribu per ancak, sehingga petani rumput beralih pekerjaan menanam kacang-kacangan.

Akibat rumput laut yang rusak itu mereka merugi hingga jutaan rupiah. Ini terjadi karena harga jual rumput turun drastis akibat kualitasnya yang buruk.

"Kalau dulu harganya Rp12 ribu per kilogram, sekarang anjlok menjadi  Rp6 ribu per kilogram," ungkap Musikan.

Selain harga yang anjlok, hasil panen juga berkurang sehingga petani mengalami kerugian yang berlipat.

Dia berharap masalah tersebut tidak berkepanjangan. Misukan dan para petani rumput laut lain juga meminta perhatian pemerintah terhadap nasib usaha mereka.(*)
Lebih baru Lebih lama