Madura Aktual, Sumenep; Tunggakan tagihan listrik yang 'nyantol' di pelanggan PLN Sumenep tercatat sebesar Rp 1,06 milyar.
"Tunggakan tersebut merupakan tunggakan komulatif pelanggan. Besarannya memang tidak sama. Tapi kisarannya 10 persen dari omzet/ pendapatan. Per bulan omzet kami berkisar Rp 8,5 hingga Rp 9 miliar," kata Manager PLN Rayon Sumenep, Slamet, Selasa (30/08/16).
Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Madura, tunggakan untuk Sumenep paling kecil. Namun demikian, ia menyadari bahwa angka tunggakan tagihan listrik tersebut masih cukup tinggi. Karena itu, pihaknya terus melakukan langkah untuk mengurangi tunggakan tersebut.
"Untuk monitoring, tidak lagi kami lakukan bulanan, tapi harian. Bahkan hitungan jam terus kami pantau untuk mengetahui realisasi penagihan tunggakan di lapangan," ujarnya.
Slamet menerangkan, PLN telah melakukan beberapa langkah untuk mengurangi tunggakan tersebut. Salah satunya dengan melakukan penagihan secara rutin terhadap para pelanggan yang menunggak pembayaran. "Ada tim yang bertugas melakukan penagihan. Tim itu ada dari vendor, kemudian dari pegawai kami untuk pemutusan mandiri," ungkapnya.
Menurutnya, pihaknya terpaksa melakukan pemutusan atau pembongkaran meteran terhadap pelanggan yang menunggak lebih dari empat bulan. "Setiap bulan ada sekitar 30 pelanggan yang terpaksa kami putus karena tunggakannya cukup besar dan cukup lama," ucapnya.
Ia memaparkan, dari 17 kecamatan yang masuk dalam wilayah PLN Rayon Sumenep, peta hitam tunggakan ada di Kecamatan Guluk-guluk, Ganding, Lenteng, dan Talango. "Selebihnya tersebar di kecamatan-kecamatan lain. Karena hampir di setiap kecamatan ada pelanggan yang menunggak," pungkasnya. (beritajatim.com)
"Tunggakan tersebut merupakan tunggakan komulatif pelanggan. Besarannya memang tidak sama. Tapi kisarannya 10 persen dari omzet/ pendapatan. Per bulan omzet kami berkisar Rp 8,5 hingga Rp 9 miliar," kata Manager PLN Rayon Sumenep, Slamet, Selasa (30/08/16).
Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Madura, tunggakan untuk Sumenep paling kecil. Namun demikian, ia menyadari bahwa angka tunggakan tagihan listrik tersebut masih cukup tinggi. Karena itu, pihaknya terus melakukan langkah untuk mengurangi tunggakan tersebut.
"Untuk monitoring, tidak lagi kami lakukan bulanan, tapi harian. Bahkan hitungan jam terus kami pantau untuk mengetahui realisasi penagihan tunggakan di lapangan," ujarnya.
Slamet menerangkan, PLN telah melakukan beberapa langkah untuk mengurangi tunggakan tersebut. Salah satunya dengan melakukan penagihan secara rutin terhadap para pelanggan yang menunggak pembayaran. "Ada tim yang bertugas melakukan penagihan. Tim itu ada dari vendor, kemudian dari pegawai kami untuk pemutusan mandiri," ungkapnya.
Menurutnya, pihaknya terpaksa melakukan pemutusan atau pembongkaran meteran terhadap pelanggan yang menunggak lebih dari empat bulan. "Setiap bulan ada sekitar 30 pelanggan yang terpaksa kami putus karena tunggakannya cukup besar dan cukup lama," ucapnya.
Ia memaparkan, dari 17 kecamatan yang masuk dalam wilayah PLN Rayon Sumenep, peta hitam tunggakan ada di Kecamatan Guluk-guluk, Ganding, Lenteng, dan Talango. "Selebihnya tersebar di kecamatan-kecamatan lain. Karena hampir di setiap kecamatan ada pelanggan yang menunggak," pungkasnya. (beritajatim.com)
Tags:
Sumenep
