![]() |
| Mohammad Hosnan |
Bagaimana Bapak mengamati perkembangan politik di Madura saat ini?
Secara umum, kita sudah memasuki fase politik demokrasi yang mulai dewasa. Namun, saya kira, kita masih terjebak pada politik prosedural. Memang, untuk menjadi politik ideal butuh proses panjang seperti di negara-negara lain. Mungkin sampai puluhan tahun baru menjadi sistem politik ideal. Artinya, demokrasi betul-betul menjadi spirit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di Indonesia, setelah reformasi kita masih menata sistem demokrasi walaupun masih dalam kerangka demokrasi prosedural. Semua diatur oleh prosedur-prosedur yang secara realitas kadang-kadang berbenturan dengan bangunan idealisme masyarakat sejahtera, madani, damai, aman, tentram dan sebagainya. Akan tetapi, demokrasi prosedural ini menjadi bagian sejarah bangsa kita untuk selalu melakukan perbaikan-perbaikan, termasuk di Madura sebagai bagian dari sistem politik nasional dan tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik nasional tersebut.
Trend politik sekarang cenderung kemana?
Sampai hari ini trendnya masih pragmatis. Bahkan ditingkat nasional mony politic belum bisa dihindari. Kesadaran politik masyarakat masih hanya sampai ke hitung-hitungan materi apakah itu uang, barang dan sebagainya. Mengapa itu terjadi? karena politik bangsa ini tidak sinergi dengan kesejahteraan bahwa partisipasi politik itu tinggi namun kesejahteraan masyarakat sangat minim. Nah, di negara-negara besar dan maju hampir sebagian besar masyarakatnya sudah sejahtera. Sehingga mereka punya kesadaran penuh untuk menentukan masa depan bangsa. Bukan hanya untuk kepentingan sesaat dalam waktu singkat. Itu di negara maju.
Tapi, oke, saya tidak terlalu pisimis. Umur kita masih kurang lebih belasan tahun sejak reformasi 1998. Nah, proses politik ini sambil lalu kita introspeksi, dan butuh perbaikan dan pembenahan terhadap sistem politik kita. Dan kuncinya adalah kesejahteraan. Kalau masyarakat sudah sejahtera maka tidak akan berfikir pendek, nasib bangsa akan lebih baik.
Tags:
Sospol
