Setiap kontestasi pemilu, yang selalu ditanya sebagian masyarakat bukan visi-misi dari calon. Tapi yang ditanya berapa gizi yang diberikan. Nah, istilah ”tongket” (Settong Saeket, Madura, Red) masih sangat kuat di masyarakat. Mungkin istilah-istilah itu lucu. Tapi semacam itu, tidak disadari masyarakat telah merasuki kesadaran politiknya. Jadi masyarakat dalam proses pemilu, dia dapat berapa? Bahkan untuk nyoblos satu saja dengan harga Rp 50 ribu. Itu kan politik pragmatis. Maka, perlu ada political will yang bersifat revolusioner untuk melakukan perubahan kedepan.
Bagaimana nasib politik Madura ke depan?
Politik di Madura akan berubah. Saya melihat dari kontestasi politik dari empat kabupaten di Madura, yang paling prospektif untuk membangun politik ideal itu, Kabupaten Sumenep. Karena partisipasi politik masyarakat tidak tergantung kapada salah satu figur. Jadi dari pemikiran yang emosional tradisional masyarakat Sumenep sudah beralih pada politik yang rasional idealis. Mengapa? karena di Sumenep tidak ada tokoh sentral yang bisa menentukan politik masyarakat. Hanya mereka yang memiliki visi-misi dan ketegasan prospeknya untuk membangun kesejahteraan masyarakat Sumenep.
Saya kira, para aktor politik di Sumenep harus menghitung ulang kalau mau memakai kekuatan-kekuatan di luar kekuatan rasional.
Apakah ada cara mengobati cedera politik?
Ada banyak pihak yang perlu terlibat dan memiliki komitmen tinggi untuk membangun politik yang berkeadaban. Antara lain, penyelenggara Pemilu seperti KPU, Bawaslu dan seluruh turunannya. Mereka harus melaksanakan tugas secara profesional dan sungguh-sungguh. Mulai dari sisi persiapan, sosialisasi, penataan dan pembekalan para petugas lapangan sampai pada teknis pemilihan serta rekapitulasi. Tidak boleh penyelenggara pemilu bermain mata dengan peserta pemilu. Jika itu dilaksanakan, maka akan terbangun politik yang berkeadaban.
Yang kedua, pemerintah harus berusaha maksimal untuk memfokuskan program-programnya hanya untuk kesejahteraan masyarakat. Kalau masyarakat sudah sejahtera, tidak kelaparan, tidak bodoh, maka yang ada dalam fikiran masyarakat adalah masa depan yang baik. Pemikiran itu akan mendorong masyarakat berfikir positif terhadap politik yang baik. Pemerintah jangan bermain-main dengan urusan yang lain kecuali untuk mewujudkan masyarakat sejahtera.
Selain itu, tokoh-tokoh masyarakat. Kita sebagai tokoh masyarakat harus memberikan penyadaran agar masyarakat berpartisipasi secara rasional tidak emosional dan pragmatis, tetapi rasional idealis. Kemudian, ormas-ormas harus bersinergi dengan seluruh komponen bangsa ini untuk membangun apakah itu dengan kritik kepada pemerintah atau dengan program-program pemberdayaan kepada masyarakat.
Mahasiswa, saya kira, adalah elemen perubahan yang vital. Sebab, perubahan yang terjadi di Indonesia semua melibatkan mahasiswa. Untuk itu, mahasiswa harus menjaga idealisme perjuangannya. Mahasiswa harus konsisten dalam kajian keilmuan dan konsisten pada keilmuan yang berpihak pada kebenaran. Jika seluruh komponen bangsa ini sudah bersinergi dan sama-sama bertekad untuk menolak politik kotor, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar bangsa, jaya dan baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur. (habis)
Pewawancara/Penulis : Moh. Faidi
Editor : Busri Toha
Tags:
Sospol
