![]() |
| Nurfitriana (sebagai model?) dibidik photografer, jepreeet. |
Memang Kabupaten Sumenep kaya akan julukan, sebutan, indentitas, slogan dan apa saja dalam bentuk ungkapan, sehingga kadang-kadang sejumlah julukan tak satupun terserap dalam ingatan, baik maknanya, nilai filosofinya, apalagi tujuannya. Julukan tampaknya akan menjadi trend selama diperlukan.
Seabrek julukan pernah dimilki oleh Sumenep, entah siapa penggagasnya, bagaimana memasarakatkannya, dan tiba-tiba muncul ungkapan baru yang kadang-kadang tampak lucu dan tak masuk akal.
Paling tidak Sumenep penah memiliki indentitas sebagai Kota Bekisar, Sumekar, Kota Budaya, Kota Keraton, Solonya Madura, Kota Santri, Super Mantap, dan entah apalagi, namun yang terakhir Kota Keris sebagai julukan . Entah darimana sumber kata julukan itu tiba-tiba muncul. Entah apa makna dan arti juluikan sehingga tampaknya demikian menggejala dengan instan sebagai bentuk trend dikalangan pemerintah.
Tentang kata "Super Mantap" sendiri agak membingungkan. Kata "super" sendiri biasanya di berikan kepada pihak yang dianggap berprestasi dalam mencerminkan indentitas kepada orang lain, seperti kata : super hero, super star, sahabat super, supernova, ..., super (merk produk rokok) dan super, super lainnya. Jadi dengan kata lain, pemaknaan super mantap, merupakan prestasi yang luar biasa yang tidak ada tandingannya. Woww luar biasa.
Namun sebenarnya seandainya dilakukan polling, - pilih saja 100 orang dengan acak – lalu tanyakan apa kepanjangan Super Mantap, apa makna dan filosofi Super Mantap?, saya seyakin-yakinnya dari 100 orang tersebut tak satupun bisa menjawabnya. Jangankan makna, memahami kata Super dan Mantap saja akan geleng-geleng kepala.
Inipun terjadi juga pada setiap peringatan Hari Jadi Sumenep, tiba-tiba muncul tema baru, logo baru, dan seterusnya. Nah, model macam ini tentu sangat memprihatinkan bagi kita semua. Konon, setiap menentukan sebuah indentas seseorang diperlukan pertanggungjawaban, entah anak baru lahir, atau lantaran berprestasi, anak tamat sekolah dan berbagai bentuk “kel-ahir-an” lainnya yang menjadi indentitas baru akan menyertakan keterlibatan semua pihak (sebut saja team) yang nantinya sebagai pertanggung jawaban kepada orang banyak. Apalagi menyangkut kedaerahan seperti di Kabupaten Sumenep yang kita cintai bersama.
Contoh sederhana, seingat saya untuk meluluskan logo Hari Jadi Sumenep pada saat lalu, melalui proses cukup panjang, mulai dari sayembara, presentasi dan bahkan diseminarkan. Dan tentu dengan hasil memuaskan.
Tapi setelah itu entah bagaimana kreatifitas penguasa Sumenep makin tumpul. Ironis memang, atau barangkali pemahaman kreatifitas dimaknai sebagai kecepatan kerja alias fragmatis, praktis dan semuanya dibuat gampang, dengan ungkapan keren “egois” alias “kardi” (karebba dhibi’).
Lepas dari masalah diatas, terakhir dalam sebuah media online diberitakan, Ketua Ketua TP PKK Sumenep, Nurfitriana, istri Bupati Sumenep, Busyro Karim, melakukan hunting bareng dengan komunitas photografer untuk membidik para model (yang entah didatangkan dari mana. Padahal wanita Madura yang menjadi kebanggaan laki-laki Madura ini justru dikesampingkan)
Dari hunting bareng itu “untuk mensosialisasikan potensi yang dimiliki Sumenep, sebab, Sumenep ini belum banyak diketahui padahal potensi yang dimiliki sangat banyak”. Entah dari mana akarnya, 745 tahun Sumenep berkibar, dari empat penjuru angin Sumenep sudah top hit dalam segala hal. Search saja di google, lalu ketika “sumenep”, dipastikan akan berbaris panjang kata kunci tersebut. Apalagi?
Dan ini yang menarik, dalam kongkow para seniman, tiba-tiba muncul ungakapan baru dikalangan seniman setelah Super Mantap Sumenep, dan Kota Keris akan lahir lagi julukan baru bagi Sumenep yaitu "Super Model”. Hal ini diperkuat, konon katanya, istri Bupati Sumenep, adalah seorang (mantan?) model atau modelling. Apa benar? (Syaf Anton Wr/foto: portalmadura.com)
Seabrek julukan pernah dimilki oleh Sumenep, entah siapa penggagasnya, bagaimana memasarakatkannya, dan tiba-tiba muncul ungkapan baru yang kadang-kadang tampak lucu dan tak masuk akal.
Paling tidak Sumenep penah memiliki indentitas sebagai Kota Bekisar, Sumekar, Kota Budaya, Kota Keraton, Solonya Madura, Kota Santri, Super Mantap, dan entah apalagi, namun yang terakhir Kota Keris sebagai julukan . Entah darimana sumber kata julukan itu tiba-tiba muncul. Entah apa makna dan arti juluikan sehingga tampaknya demikian menggejala dengan instan sebagai bentuk trend dikalangan pemerintah.
Tentang kata "Super Mantap" sendiri agak membingungkan. Kata "super" sendiri biasanya di berikan kepada pihak yang dianggap berprestasi dalam mencerminkan indentitas kepada orang lain, seperti kata : super hero, super star, sahabat super, supernova, ..., super (merk produk rokok) dan super, super lainnya. Jadi dengan kata lain, pemaknaan super mantap, merupakan prestasi yang luar biasa yang tidak ada tandingannya. Woww luar biasa.
Namun sebenarnya seandainya dilakukan polling, - pilih saja 100 orang dengan acak – lalu tanyakan apa kepanjangan Super Mantap, apa makna dan filosofi Super Mantap?, saya seyakin-yakinnya dari 100 orang tersebut tak satupun bisa menjawabnya. Jangankan makna, memahami kata Super dan Mantap saja akan geleng-geleng kepala.
Inipun terjadi juga pada setiap peringatan Hari Jadi Sumenep, tiba-tiba muncul tema baru, logo baru, dan seterusnya. Nah, model macam ini tentu sangat memprihatinkan bagi kita semua. Konon, setiap menentukan sebuah indentas seseorang diperlukan pertanggungjawaban, entah anak baru lahir, atau lantaran berprestasi, anak tamat sekolah dan berbagai bentuk “kel-ahir-an” lainnya yang menjadi indentitas baru akan menyertakan keterlibatan semua pihak (sebut saja team) yang nantinya sebagai pertanggung jawaban kepada orang banyak. Apalagi menyangkut kedaerahan seperti di Kabupaten Sumenep yang kita cintai bersama.
Contoh sederhana, seingat saya untuk meluluskan logo Hari Jadi Sumenep pada saat lalu, melalui proses cukup panjang, mulai dari sayembara, presentasi dan bahkan diseminarkan. Dan tentu dengan hasil memuaskan.
Tapi setelah itu entah bagaimana kreatifitas penguasa Sumenep makin tumpul. Ironis memang, atau barangkali pemahaman kreatifitas dimaknai sebagai kecepatan kerja alias fragmatis, praktis dan semuanya dibuat gampang, dengan ungkapan keren “egois” alias “kardi” (karebba dhibi’).
Lepas dari masalah diatas, terakhir dalam sebuah media online diberitakan, Ketua Ketua TP PKK Sumenep, Nurfitriana, istri Bupati Sumenep, Busyro Karim, melakukan hunting bareng dengan komunitas photografer untuk membidik para model (yang entah didatangkan dari mana. Padahal wanita Madura yang menjadi kebanggaan laki-laki Madura ini justru dikesampingkan)
Dari hunting bareng itu “untuk mensosialisasikan potensi yang dimiliki Sumenep, sebab, Sumenep ini belum banyak diketahui padahal potensi yang dimiliki sangat banyak”. Entah dari mana akarnya, 745 tahun Sumenep berkibar, dari empat penjuru angin Sumenep sudah top hit dalam segala hal. Search saja di google, lalu ketika “sumenep”, dipastikan akan berbaris panjang kata kunci tersebut. Apalagi?
Dan ini yang menarik, dalam kongkow para seniman, tiba-tiba muncul ungakapan baru dikalangan seniman setelah Super Mantap Sumenep, dan Kota Keris akan lahir lagi julukan baru bagi Sumenep yaitu "Super Model”. Hal ini diperkuat, konon katanya, istri Bupati Sumenep, adalah seorang (mantan?) model atau modelling. Apa benar? (Syaf Anton Wr/foto: portalmadura.com)
:
Tags:
Ekspose
