Dongeng sejak dulu sudah digunakan para orang tua sebagai salah satu media komunikasi dengan anak-anak, terutama untuk mengajarkan moral dengan cara yang menyenangkan. Berbagai pesan moral yang disampaikan kepada anak melalui dongeng akan lebih mudah diterima.
Bahkan dongeng yang dilakukan orang tuanya sendiri mampu membuat hubungan orang tua dan anak semakin kuat. Tidak heran, saat ini budaya mendongeng yang mulai tenggelam dibangkitkan lagi.
“Mendongeng juga bisa mengantarkan anak didik peka segalanya. Karena dari dongeng diontohkan relitas-realitas yang dekat dengan dunia anak”, demikian dikatakan Lilik Rosida Irmawati seorang pemerhati budaya ketika ditemui Madura Aktual di kediamannya, Senin (12/01/2015)
Dongeng juga merupakan satu media yang paling efektif untuk mengembangkan aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial dan konatif (penghayatan) anak-anak. “Dari dongeng, tersebar beribu-ribu hikmah yang membuat anak-anak merasa belajar lewat sesuatu tanpa harus digurui, karena mereka aka merespon segala sesuatu degan cara mereka sendiri”, urainya
Menurut guru Kepala SDN Pabian 1 Sumenep itu, mendongeng merupakan kegiatan bersantai bersama anak-anak, disisi lain memiliki pesan-pesan yang tersirat maupun tersurat.
“Dengan mendengarkan dongeng anak bisa mencerna lebih gampang keadaan yang terjadi disekitarnya dan bagaimana cara menyikapinya”, tambahnya.
Kebiasaan mendongeng tambah Lilik harus ditanamkan dan dikembangkan sebagai media pembelajaran, baik di sekolah maupun di rumah. “Selama bersekolah, anak-anak sejak dini dilatih memiliki daya tangkap yang baik. Dengan memasukkan kegiatan mendongeng, anak, anak dilatih memiliki daya tangkap yang baik dengan guru maupun orang tua”, urainya.
Melalui dongeng anak-anak berlatih berimajinasi. Imajinasi itu bisa banyak hal, misalnya imajinasi kemasa lalu, ke dunia lain seperti binatang atau yang sifatnya futuristik. “Misalnya, anak-anak diajak bercerita tahun 3000 dengan membayangkan teknologi yang memungkinkan manusia bertamasya ke luar angkasa maupun ke dasar lautan”, katanya.
Mendongeng harus disesuaikan dengan usia dan karakter anak, pada usia TK tokoh dalam dongeng harus digambarkan hitam-putih, jangan digambarkan abu-abu, maksudnya kalau tokoh itu baik digambarkan baik, kalau tokoh itu jahat digambarkan jahat.
“Dengan demikian anak-anak di usia TK bisa melakukan identifikasi tokoh dan identifikaksi perbuatan”, pungkas penulis buku Berkenalan dengan Kesenian Madura itu (Dzulfie Zamzami))
Tags:
Ekspose
