Madura Aktual; Sebagian besar orang memulai kebiasaan merokok saat mereka masih remaja dan mulai kecanduan rokok seiring mereka beranjak dewasa. Mereka tau betapa berbahayanya merokok terhadap kesehatan mereka dan beberapa telah berusaha untuk berhenti tapi lalu kembali melakukannya, karena memang cukup sulit untuk menghentikan kecanduan yang kuat semacam itu.
Menurut data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) yang dirilis Kementrian Kesehatan pada tahun 2012 lalu, terdapat 36,1 % dari penduduk Indonesia adalah perokok, baik pria maupun wanita. Artinya, ada total 61,4 juta penduduk yang mengonsumsi tembakau di Indonesia.
Ironisnya, prevalensi perokok menurut usia dan gender pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun, mencapai sebanyak 51,7%. Ini termasuk anak-anak dan remaja kelompok usia 15 hingga 18 tahun. Bahkan, baru saja diberitakan, terdapat seorang balita berusia 2,5 tahun di suatu kota di provinsi Jawa Timur yang menghabiskan rokok sebanyak dua bungkus per hari!
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan kaum remaja menyukai kebiasaan yang dapat membahayakan kesehatan dan nyawa ini?
Tiga alasan utama remaja merokok adalah keinginan untuk terlihat dewasa, menunjukkan solidaritas pada teman sesama perokok dan/atau hanya ingin coba-coba saja. Bila orang-orang di sekitar mereka, terutama orangtua dan kerabat mereka merokok, mereka cenderung akan menjadi perokok juga untuk terlihat sejajar dengan kedudukan mereka yang lebih tua.
Dorongan untuk menjadi perokok akan semakin kuat saat mereka berteman dengan remaja lain yang merokok. Ini karena mereka ingin menyesuaikan diri dengan teman-teman perokok mereka. Alasan terakhir adalah kepuasan batin yang didapat dari mencoba sesuatu yang ‘terlarang’.
Memang, pada kenyataannya, tidak semua negara mengizinkan warganya yang masih di bawah usia 17-18 tahun untuk merokok. Contohnya, di sebagian negara bagian di Amerika, diberlakukan hukum terhadap remaja di bawah usia 18 tahun yang merokok. Biasanya, para orangtua di sanapun melarang keras anak remajanya untuk merokok. Itulah mengapa merokok menjadi sangat menarik bagi para remaja, karena melakukannya adalah merupakan suatu tantangan yang menyenangkan.
Satu-satunya cara yang dapat membantu orang untuk tidak merokok adalah dengan menggalakkan budaya “bebas rokok” di masyarakat. Anda dapat mengawalinya di rumah sendiri, bersama keluarga Anda. Ini memang tidak mudah, mengingat animo masyarakat di Indonesia untuk merokok yang masih tinggi, tapi patut dicoba. Dan bila Anda sudah terlanjur merokok dan ingin berhenti, mintalah dukungan dari keluarga, dokter dan/atau sebuah kelompok pendukung.
Ingat, dengan menegakkan budaya “bebas rokok”, Anda dan keluarga dapat mencapai apapun yang Anda mau! Kesehatan, performa kerja dan penampilan yang jauh lebih baik, lebih banyak uang dan pastinya, usia yang lebih panjang! (hellodoctor.co.id)
Menurut data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) yang dirilis Kementrian Kesehatan pada tahun 2012 lalu, terdapat 36,1 % dari penduduk Indonesia adalah perokok, baik pria maupun wanita. Artinya, ada total 61,4 juta penduduk yang mengonsumsi tembakau di Indonesia.
Ironisnya, prevalensi perokok menurut usia dan gender pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun, mencapai sebanyak 51,7%. Ini termasuk anak-anak dan remaja kelompok usia 15 hingga 18 tahun. Bahkan, baru saja diberitakan, terdapat seorang balita berusia 2,5 tahun di suatu kota di provinsi Jawa Timur yang menghabiskan rokok sebanyak dua bungkus per hari!
Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan kaum remaja menyukai kebiasaan yang dapat membahayakan kesehatan dan nyawa ini?
Tiga alasan utama remaja merokok adalah keinginan untuk terlihat dewasa, menunjukkan solidaritas pada teman sesama perokok dan/atau hanya ingin coba-coba saja. Bila orang-orang di sekitar mereka, terutama orangtua dan kerabat mereka merokok, mereka cenderung akan menjadi perokok juga untuk terlihat sejajar dengan kedudukan mereka yang lebih tua.
Dorongan untuk menjadi perokok akan semakin kuat saat mereka berteman dengan remaja lain yang merokok. Ini karena mereka ingin menyesuaikan diri dengan teman-teman perokok mereka. Alasan terakhir adalah kepuasan batin yang didapat dari mencoba sesuatu yang ‘terlarang’.
Memang, pada kenyataannya, tidak semua negara mengizinkan warganya yang masih di bawah usia 17-18 tahun untuk merokok. Contohnya, di sebagian negara bagian di Amerika, diberlakukan hukum terhadap remaja di bawah usia 18 tahun yang merokok. Biasanya, para orangtua di sanapun melarang keras anak remajanya untuk merokok. Itulah mengapa merokok menjadi sangat menarik bagi para remaja, karena melakukannya adalah merupakan suatu tantangan yang menyenangkan.
Satu-satunya cara yang dapat membantu orang untuk tidak merokok adalah dengan menggalakkan budaya “bebas rokok” di masyarakat. Anda dapat mengawalinya di rumah sendiri, bersama keluarga Anda. Ini memang tidak mudah, mengingat animo masyarakat di Indonesia untuk merokok yang masih tinggi, tapi patut dicoba. Dan bila Anda sudah terlanjur merokok dan ingin berhenti, mintalah dukungan dari keluarga, dokter dan/atau sebuah kelompok pendukung.
Ingat, dengan menegakkan budaya “bebas rokok”, Anda dan keluarga dapat mencapai apapun yang Anda mau! Kesehatan, performa kerja dan penampilan yang jauh lebih baik, lebih banyak uang dan pastinya, usia yang lebih panjang! (hellodoctor.co.id)
Tags:
Kesehatan
