Korupsi sering dipahami sekadar tindakan mencuri uang negara. Namun, bagi Emha Ainun Nadjib, korupsi jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan hukum. Korupsi bukan hanya milik para pejabat atau elit kekuasaan, tetapi bisa jadi telah menjadi bagian dari budaya yang hidup dalam masyarakat.
Ia mempertanyakan apakah korupsi merupakan penyakit individu, penyakit sistem, atau bahkan penyakit budaya. Korupsi digambarkan seperti asap halus yang menyebar tanpa terlihat, masuk ke pola pikir, cara hidup, hingga cara manusia memahami agama dan moralitas.
Menurutnya, korupsi materi hanyalah salah satu bentuk kecil dari jiwa korup yang lebih besar. Korupsi bisa hadir dalam cara berpikir, dalam niat, dalam manipulasi makna, bahkan dalam perilaku beragama. Karena itu, seseorang yang tampak saleh, aktif beribadah, atau memiliki citra baik di masyarakat belum tentu bebas dari budaya korupsi.
Emha juga mengingatkan bahwa mereka yang merasa sedang memberantas korupsi pun harus terus mengawasi dirinya sendiri. Sebab, tanpa kesadaran mendalam, pemberantasan korupsi bisa berubah menjadi tindakan “tebang pilih” yang justru melahirkan ketidakadilan baru.
Tulisan ini membuka kesadaran bahwa korupsi bukan hanya persoalan uang, melainkan persoalan jiwa, budaya, dan cara manusia memandang hidup.(*)
