![]() |
| Para pembicara: Tohari, Syaf Anton dan Alfian |
Madura Aktual, Sumenep; Pola hidup orang Madura banyak dipengaruhi oleh kondisi geografis Pulau Madura. Namun justru pengaruh inilah mampu membangun etos kerja, mandiri, solider, menghargai, dan taat pada keadaan.
Demikian dikatakan budayawan Madura, Syaf Anton Wr, pada Seminar Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan, yang diselenggarakan Ikatan Alumni STKIP Sumenep, Sabtu, (16/05/2015) di auditorium STKIP Sumenep
“Dari sifat mandiri dan suka menghargai itulah, kaum perempuan Madura lebih kompromis, termasuk bila diajak dan diarahkan dalam hal pengembangan pendidikan”, ungkapnya.
Menurutnya, dalam mensosialisasikan pemahaman pentingnya pendidikan bagi anak, sebenarnya bisa dimanfaatkan melalui media pengajian para ibu, pkk, posyandu dan lainnya. “Namun peluang ini sering tidak dimanfaatkan”
“Buktinya, ibu-ibu lebih suka menunggui putra-putrinya pada saat sekolah di TK atau Paud dibanding berlama-lama di rumah”, kata Anton memberi contoh.
Seminar dengan mengusung tema “Pergolakan Perempuan dalam Dunia Pendidikan” itu juga hadir sebagai pembicara Tohari, Aktifis Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan “Rahma” Jakarta dan Alfian Narianati, aktifis perempuan dan Koalisi Perempuan (KPI) Jawa Timur.
Seminar yang dihadiri Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak (IGTKI) Sumenep, perwakilan dari prodi STKIP, serta mahasiswa itu, sebelumnya dibuka oleh Bupati Sumenep yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Moh, Sadik. (el)
Demikian dikatakan budayawan Madura, Syaf Anton Wr, pada Seminar Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan, yang diselenggarakan Ikatan Alumni STKIP Sumenep, Sabtu, (16/05/2015) di auditorium STKIP Sumenep
“Dari sifat mandiri dan suka menghargai itulah, kaum perempuan Madura lebih kompromis, termasuk bila diajak dan diarahkan dalam hal pengembangan pendidikan”, ungkapnya.
Menurutnya, dalam mensosialisasikan pemahaman pentingnya pendidikan bagi anak, sebenarnya bisa dimanfaatkan melalui media pengajian para ibu, pkk, posyandu dan lainnya. “Namun peluang ini sering tidak dimanfaatkan”
“Buktinya, ibu-ibu lebih suka menunggui putra-putrinya pada saat sekolah di TK atau Paud dibanding berlama-lama di rumah”, kata Anton memberi contoh.
Seminar dengan mengusung tema “Pergolakan Perempuan dalam Dunia Pendidikan” itu juga hadir sebagai pembicara Tohari, Aktifis Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan “Rahma” Jakarta dan Alfian Narianati, aktifis perempuan dan Koalisi Perempuan (KPI) Jawa Timur.
Seminar yang dihadiri Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak (IGTKI) Sumenep, perwakilan dari prodi STKIP, serta mahasiswa itu, sebelumnya dibuka oleh Bupati Sumenep yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Moh, Sadik. (el)
Tags:
Ekspose
