![]() |
| KH Mustofa Bisri |
Madura Aktual, Jombang; Ketegangan pada Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) DI Jombang, Jawa Timur, Senin (01/08/2015) yang sempat terganggu perdebatan mekanisme pemilihan pemimpin NU akhir tercerahkan. Hal ini berkat Rais Aam Syuriah NU KH Mustofa Bisri atau Gus Mus berperan penting dalam proses tersebut.
kelanjutan pembahasan tata tertib (tatib) yang tertunda sejak Ahad (2/8) malam dibuka dengan pidato Gus Mus. Di hadapan ribuan muktamirin, Gus Mus meluapkan keprihatinannya atas tersendatnya Muktamar akibat makin menajamnya perdebatan di antara muktamirin.
Gus Mus dalam pernyataannya menyebutkan sebagai pemimpin yang mengemban amanah pada muktamar mengaku malu terhadap Tuhan dan para kiai pendiri NU. Dan ia bersedia cium kaki para muktamirin asal tidak terjadi kegaduhan dalam proses muktamar.
“Saya mohon dengan hormat, kalau perlu saya cium kaki Anda semua. Saya telah bertemu para kiai sepuh dan saya mendengarkan pendapat mereka. Rata-rata mereka semua prihatin. Di tanah ini terbujur Mbah Hasyim (Asy’ari), di sini NU dibangun. Apakah kita ingin meruntuhkannya di sini juga?” ungkap Gus Mus.
Gus Mus yang dikenal sebagai penyair itu menyamnpaikan keinginannya dengan khidmat. Iapun sempat mentestakan air mata saat membaca suasana yang haru itu. Suaranya gemetar, liirih tapi tampak jelas membuat para muktamirin tertunduk.
Gus Mus menyampaikan, hasil pertemuan dengan para kiai, diusulkan bahwa untuk setiap pasal yang tidak disepakati melalui musyawarah-mufakat, proses pengambilan keputusan akan diambil melalui pemungutan suara oleh rais syuriah tingkat wilayah.
“Kalau ini Anda tetap tidak terima, tidak apa-apa, karena saya hanya Mustofa Bisri. Saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal (Mahfudz). Kalau Anda tidak terima, mohon lepaskan saya,” ujar Gus Mus tanpa dengan nada haru.
Ia menyampaikan bahwa dirinya semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan nasib organisasi dan peserta muktamar.
“Sebagai penanggung jawab, saya mohon maaf kepada Anda sekalian karena telah mengecewakan, terutama yang sepuh, karena kendala teknis dari panitia. Itu kesalahan saya,” tuturnya memohon.
Sebelumnya, peserta muktamar terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama menginginkan mekanisme pemilihan rais aam syuriah NU dan Ketua Umum PBNU dilakukan dengan cara musyawarah yang diwakili Sembilan kiai terpilih.
Cara itu dianggap alternatif yang memuliakan ulama, daripada melalui cara pemungutan suara seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Namun, kubu lainnya berkukuh untuk menggunakan mekanisme pemungutan suara, karena itu merupakan amanat AD/ART yang belum diubah. (*)
kelanjutan pembahasan tata tertib (tatib) yang tertunda sejak Ahad (2/8) malam dibuka dengan pidato Gus Mus. Di hadapan ribuan muktamirin, Gus Mus meluapkan keprihatinannya atas tersendatnya Muktamar akibat makin menajamnya perdebatan di antara muktamirin.
Gus Mus dalam pernyataannya menyebutkan sebagai pemimpin yang mengemban amanah pada muktamar mengaku malu terhadap Tuhan dan para kiai pendiri NU. Dan ia bersedia cium kaki para muktamirin asal tidak terjadi kegaduhan dalam proses muktamar.
“Saya mohon dengan hormat, kalau perlu saya cium kaki Anda semua. Saya telah bertemu para kiai sepuh dan saya mendengarkan pendapat mereka. Rata-rata mereka semua prihatin. Di tanah ini terbujur Mbah Hasyim (Asy’ari), di sini NU dibangun. Apakah kita ingin meruntuhkannya di sini juga?” ungkap Gus Mus.
Gus Mus yang dikenal sebagai penyair itu menyamnpaikan keinginannya dengan khidmat. Iapun sempat mentestakan air mata saat membaca suasana yang haru itu. Suaranya gemetar, liirih tapi tampak jelas membuat para muktamirin tertunduk.
Gus Mus menyampaikan, hasil pertemuan dengan para kiai, diusulkan bahwa untuk setiap pasal yang tidak disepakati melalui musyawarah-mufakat, proses pengambilan keputusan akan diambil melalui pemungutan suara oleh rais syuriah tingkat wilayah.
“Kalau ini Anda tetap tidak terima, tidak apa-apa, karena saya hanya Mustofa Bisri. Saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal (Mahfudz). Kalau Anda tidak terima, mohon lepaskan saya,” ujar Gus Mus tanpa dengan nada haru.
Ia menyampaikan bahwa dirinya semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan nasib organisasi dan peserta muktamar.
“Sebagai penanggung jawab, saya mohon maaf kepada Anda sekalian karena telah mengecewakan, terutama yang sepuh, karena kendala teknis dari panitia. Itu kesalahan saya,” tuturnya memohon.
Sebelumnya, peserta muktamar terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama menginginkan mekanisme pemilihan rais aam syuriah NU dan Ketua Umum PBNU dilakukan dengan cara musyawarah yang diwakili Sembilan kiai terpilih.
Cara itu dianggap alternatif yang memuliakan ulama, daripada melalui cara pemungutan suara seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Namun, kubu lainnya berkukuh untuk menggunakan mekanisme pemungutan suara, karena itu merupakan amanat AD/ART yang belum diubah. (*)
Tags:
Fokus
