Pemimpin Sejati Mampu Buat Perubahan, Bukan Hanyut Perubahan Tak Jelas | Suara Terkini dari Madura

Pemimpin Sejati Mampu Buat Perubahan, Bukan Hanyut Perubahan Tak Jelas

Illustrasi: Lukisan D Zawawi Imron
D. Zawawi Imron

Syak Kredo kebudayaan, katanya, adalah “perubahan terus menerus.” Maksudnya, sesuatu yang tidak lagi relevan dengan zaman harus diubah atau dicari gantinya yang lebih segar. Satu nilai budaya yang kadaluarsa tetapi tetap dipakai pasti tidak cocok dengan zaman.

Apalagi kebudayaan itu bukan wahyu dari tuhan, tatapi produk manusia dan sekelompok manusia, pada suatu ketika akan ada kebiasaan masa lampau atau warisan masa lalu yang terasa tengik dan jamuran. Itu tandanya pembaharuan dan perubahan menjadi niscaya.

Jika tidak ada perubahan sama rasanya dengan minyak kelapa yang sudah tengik digunakan untuk menggoreng ikan segar. Rasa ikannya tidak akan tampak, tapi tengiknya yang bikin mulut dan indra penciuman menjadi getir.

Namun yang perlu dicatat, perubahan dan perubahan itu tidak sama. Ada perubahan yang tanpa konsep visi yang matang_asal berubah saja. Hasilnya tidak akan membawa atmosfer yang nyaman. Bisa mungkin rasanya lebih tengik dari warisan tradisi yang memang tengik.

Ada perubahan yang dipandu oleh pemimpin yang visioner, konsepnya matang dan tahu membaca hati masyarakat, hasilnya akan membawa kesegaran baru, dan masyarakat akan mendukungnya dengan keringat dan hati yang berbunga.

Itulah mungkin, kenapa Barnabas Suebu ketika menjadi gubernur Irian Jaya, dalam membangun daerahnya, dengan skala perioritas untuk membuat sejahtera masyarakat akar rumput, seperti yang termaktub dalam adigium Jawa. “wong cilik melu guyune,” orang kecil ikut tertawa (gembira).

Kebudayaan yang sehat memang ditujukan untuk mengubah nasib rakyat jelata. Jika kita memakai paradigmanya Bernabus Suebu, banyaknya orang naik pesawat, dan banyaknya orang pegang telepon genggam, belum menunjukkan kebudayaan yang bertumpu di atas hati nurani. Apalagi jika tetesan air mata masih banyak membasahi haribaan ibu pertiwi.

Karena itu, sila-sila dalam pancasila itu tidak perlu diubah. Yang seperti sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” agar bisa dikonkretkan menjadi budaya “kasih sayang” sesama bangsa, sehingga dapat menciptakan kesejahteaan bersama yang berimbas pada kokohnya persatuan dan sehatnya pelaksanaan demokrasi.

Kita memang banyak mempunyai kata-kta bijak yang ideal untuk menjadi kearifan hidup. Repotnya kalau kata-kata mutiara itu hanya menjadi slogan yang ditulis besar-besar pada spanduk, tetapi spirit dari hakikat kata-kata bijak itu tidak lagi berdenyut menjadi irama kalbu.

Akibatnya, slogan itu menjadi sejenis “tong kosong yang nyaring bunyinya,” misalnya ada tulisan “Kebersihan itu sebagian dari iman,” tetapi dekat tulisan itu tanpak kocar-kacir tak terurus.

Sudah saatnya kita mengubah budaya “slogan” menjadi budaya “tindakan nyata.” Artinya, istilah-istilah seperti kesederhanaan, kebersamaan, kedamaian, solidaritas dan lain-lain tidak hanya manis ketika diucapkan, tapi pahit dalam kenyataan.

Mengubah budaya “tong kosong” ke budaya “tindakan nyata” tentu memerlukan kerja sama dan etos kerja, di samping memerlukan pemimpin-pemimpin yang bisa diteladani. Baik di pusat maupun di daerah. Iklim yang tidak enak warisan yang lalu lalu memang meniscayakan adanya tuntutan perubahan.

Sedangkan untuk para pemimpin, ada ucapan yang bagus dari Amre Gurutta DR . Rafii Yunus Martan, pemimpin persatuan “as’adiyah,” sengkang, Sulawesi Selatan. Beliau berkata : “Pemimpin sejati ialah yang mampu membuat perubahan, bukan hanyut dalam perubahan yang tak jelas arahnya.

Ucapan di atas tentu saja pantas untuk jadi renungan, karena diucapkan oleh seorang kiai yang tidak punya ambisi keduniaan. Ucapan itu tak lain ialah kado pencerahan bagi para pemimpin karena beliau sangat mencintai bangsa dan tanah air kita ini. (madura aktual)
Lebih baru Lebih lama