D. Zawawi Imron
Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih puteranya, sebagai ujian kepatuhan, Ibrahim berhasil mengalahkan “ego”-nya, ia utamakan perintah Tuhan, karena ajaran Tuhan lebih utama dari pada kepentingan pribadi. Ia lalu menyembelih puteranya sebagai bukti ia telah menyembelih kepentingan egonya sendiri.
Ketika penyembelihan itu di laksanakan, ternyata yang terpotong adalah leher seekor domba yang dikirim Tuhan melalui tangan malaikat. Sang putera yang masih remaja tetap utuh berdiri di sampingnya dengan senyum yang lebih indah dari mekarnya mawar yang dibasahi embun pagi.
Domba yang dipotong Ibrahim itu, dagingnya dibagi-bagikan kepada kaum miskin. Domba itulah yang sampai sekarang disebut “qurban” atau korban. Korban kemudian menjadi syariat yang dilaksanakan pada setiap hariraya Idul-adha, yaitu dengan menyembelih kambing, sapi atau unta, yang dagingnya dipersembahkan kepada para tetangga, terutama kaum miskin yang sehari-harinya jarang bersantap makanan yang bergizi.
Substansi dari korban itu ialah pengabdian kepada Tuhan dengan mensejahterakan dan membahagiakan orang banyak. Tidak mustahil di Indonesia ini, setiap perbuatan mensejahterakan orang lain lalu disebut “pengorbanan”. Para pahlawan yang gugur untuk kemerdekaan dianggap telah “mengorbankan” dirinya untuk bangsa dan tanah air.
Orang kaya yang membangun panti asuhan disebut telah “berkorban” dengan harta kekayaannya untuk masa depan anak yatim. Orang kaya yang dermawan, yang suka mengorbankan hartanya untuk kepentingan orang banyak, tidak akan pernah merasa memiliki harta, ia cukup merasa menjadi petugas yang membagi-bagikan harta Tuhan untuk kebahagiaan umat manusia.
Dengan demikian ia telah memetik hikmah yang berupa “spirit korban”, yaitu semangat pengorbanan untuk membuat semua orang bahagia dan sejahtera. Tindakan membahagiakan orang lain tentunya dimulai dengan menyembelih “ego” yang berupa kepentingan pribadi. Semangat seperti itu tentunya tidak hanya pantas dimiliki para orang kaya, tetapi wajib dimiliki juga oleh para pemimpin, pejabat, wakil rakyat, bahkan oleh seluruh orang kebanyakan.
Jika pemimpin, pejabat, dan wakil rakyat tidak bisa mengendalikan egonya, yang akan berkembang dalam dirinya tidak lain berupa sifat “egoisme” yang tidak pernah memberi tempat bagi kepentingan orang lain.
Akibatnya, mereka hanya akan senang berfoya-foya sendiri, dan sebagai akibatnya nasib rakyat akan terbengkalai. Yang terjadi kemudian bukan hanya munculnya jarak antara pemimpin dengan rakyat, lebih dari itu “ketidakpedulian” rakyat terhadap pemimpinnya. Jika terjadi demikian, bukan rakyat yang bersalah, karena yang memulai “ketidakpedulian” adalah para pemimpin sendiri.
Rakyat, kapan pun dan dimana pun selalu memerlukan “kepedulian” para pemimpin yang rela berkorban untuk rakyat. Pemimpin yang demikian yang sangat dirindukan dan dicintai oleh rakyat. Pemimpin sejati seperti itu yang senyum dan lambaian tangannya bisa mnghapus duka dan resah di hati rakyat.
Spirit korban hanya akan lahir dari jiwa yang cerdas, jiwa yang mengembangkan cinta dan kasih sayang. Bahwa sakit seseorang adalah sakit kita semua, senyum seseorang adalah kebahagian kita semua. Kata Sutardji Calzoum Bachri dalam salah satu sajaknya: Yang terluka padamu berdarah padaku.
Kecerdasan yang berupa kasih sayang yang dimiliki para pahlawan, kemudian mekar menjadi semangat berkorban untuk bangsa dan tanah air. Karena pahlawan peduli bangsa, maka bangsa pun akan peduli, hormat dan cinta kepadanya, meskipun mereka telah mati. Doa untuk para pahlawan merupakan wujud cinta sejati dari hati yang merasa berhutang budi kepada pahlawannya. (mak)
![]() |
| D. Zawawi Imron saat melukis |
Ketika penyembelihan itu di laksanakan, ternyata yang terpotong adalah leher seekor domba yang dikirim Tuhan melalui tangan malaikat. Sang putera yang masih remaja tetap utuh berdiri di sampingnya dengan senyum yang lebih indah dari mekarnya mawar yang dibasahi embun pagi.
Domba yang dipotong Ibrahim itu, dagingnya dibagi-bagikan kepada kaum miskin. Domba itulah yang sampai sekarang disebut “qurban” atau korban. Korban kemudian menjadi syariat yang dilaksanakan pada setiap hariraya Idul-adha, yaitu dengan menyembelih kambing, sapi atau unta, yang dagingnya dipersembahkan kepada para tetangga, terutama kaum miskin yang sehari-harinya jarang bersantap makanan yang bergizi.
Substansi dari korban itu ialah pengabdian kepada Tuhan dengan mensejahterakan dan membahagiakan orang banyak. Tidak mustahil di Indonesia ini, setiap perbuatan mensejahterakan orang lain lalu disebut “pengorbanan”. Para pahlawan yang gugur untuk kemerdekaan dianggap telah “mengorbankan” dirinya untuk bangsa dan tanah air.
Orang kaya yang membangun panti asuhan disebut telah “berkorban” dengan harta kekayaannya untuk masa depan anak yatim. Orang kaya yang dermawan, yang suka mengorbankan hartanya untuk kepentingan orang banyak, tidak akan pernah merasa memiliki harta, ia cukup merasa menjadi petugas yang membagi-bagikan harta Tuhan untuk kebahagiaan umat manusia.
Dengan demikian ia telah memetik hikmah yang berupa “spirit korban”, yaitu semangat pengorbanan untuk membuat semua orang bahagia dan sejahtera. Tindakan membahagiakan orang lain tentunya dimulai dengan menyembelih “ego” yang berupa kepentingan pribadi. Semangat seperti itu tentunya tidak hanya pantas dimiliki para orang kaya, tetapi wajib dimiliki juga oleh para pemimpin, pejabat, wakil rakyat, bahkan oleh seluruh orang kebanyakan.
Jika pemimpin, pejabat, dan wakil rakyat tidak bisa mengendalikan egonya, yang akan berkembang dalam dirinya tidak lain berupa sifat “egoisme” yang tidak pernah memberi tempat bagi kepentingan orang lain.
Akibatnya, mereka hanya akan senang berfoya-foya sendiri, dan sebagai akibatnya nasib rakyat akan terbengkalai. Yang terjadi kemudian bukan hanya munculnya jarak antara pemimpin dengan rakyat, lebih dari itu “ketidakpedulian” rakyat terhadap pemimpinnya. Jika terjadi demikian, bukan rakyat yang bersalah, karena yang memulai “ketidakpedulian” adalah para pemimpin sendiri.
Rakyat, kapan pun dan dimana pun selalu memerlukan “kepedulian” para pemimpin yang rela berkorban untuk rakyat. Pemimpin yang demikian yang sangat dirindukan dan dicintai oleh rakyat. Pemimpin sejati seperti itu yang senyum dan lambaian tangannya bisa mnghapus duka dan resah di hati rakyat.
Spirit korban hanya akan lahir dari jiwa yang cerdas, jiwa yang mengembangkan cinta dan kasih sayang. Bahwa sakit seseorang adalah sakit kita semua, senyum seseorang adalah kebahagian kita semua. Kata Sutardji Calzoum Bachri dalam salah satu sajaknya: Yang terluka padamu berdarah padaku.
Kecerdasan yang berupa kasih sayang yang dimiliki para pahlawan, kemudian mekar menjadi semangat berkorban untuk bangsa dan tanah air. Karena pahlawan peduli bangsa, maka bangsa pun akan peduli, hormat dan cinta kepadanya, meskipun mereka telah mati. Doa untuk para pahlawan merupakan wujud cinta sejati dari hati yang merasa berhutang budi kepada pahlawannya. (mak)
Tags:
Serpihan
