![]() |
| Suasana pelaksanaan festival |
Madura Aktual, Sumenep; Merayakan Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke 746, Poltarmadura.com bekerjasama dengan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah raga (Disparbudpora), serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumenep, meneyelenggarakan Festival Saronen 2015, Sabtu, (10/10/2015), siang.
Festval yang hanya diikuti oleh 2 peserta tersebut, dimaksudkan untuk menjadi momentum penetapan tanggal 10 Oktober sebagai Hari Festival Saronen.
Edhi Setiawan, selaku budayawan Madura menyatakan siapapun punya hak berinisiatif menetapkan sebuah peristiwa.
“Namun untuk musik sarone seyogyanya menggali sumber yang melatarinya. Bisa saja dari kelahiran atau meninggalnya Kiai Hatib Sendang sebagai pencetus adanya musik Saronen,” kata Edhi.
Tapi tambah Edhi untuk menemukan latar tersebut sangat sulit. Solusinya para seniman dan budayawan mencari kesimpulan lain, yang bisa mengarah pada tanggal maupun bulan penetapatan peristiwa.
“Apakah diluar tanggal 10 Oktober tidak dibolehkan menyelenggarakan musik saronen. Bila ingin dilanggengkan silakan, tapi penggagas harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan selanjutnya” kata Edhi yang juga mempertanyakan.
Hal ini juga dikuatkan oleh Tadjul Arifin R. Sejarawan Madura ini menyatakan tidak mudah menentukan sebuah peritiwa karena butuh proses dan penggalian serta keterlibatan semua pihak, khususnya para seniman dan budayawan yang tahu persip seperti apa saronen.
“Tampaknya panitia pelaksana tidak konsep matang, baik dalam pelaksanaan festival, apalagi mentapkan 10 Oktober sebagai hari festival saronen,” tukas Tadjul (mak)
Festval yang hanya diikuti oleh 2 peserta tersebut, dimaksudkan untuk menjadi momentum penetapan tanggal 10 Oktober sebagai Hari Festival Saronen.
Edhi Setiawan, selaku budayawan Madura menyatakan siapapun punya hak berinisiatif menetapkan sebuah peristiwa.
“Namun untuk musik sarone seyogyanya menggali sumber yang melatarinya. Bisa saja dari kelahiran atau meninggalnya Kiai Hatib Sendang sebagai pencetus adanya musik Saronen,” kata Edhi.
Tapi tambah Edhi untuk menemukan latar tersebut sangat sulit. Solusinya para seniman dan budayawan mencari kesimpulan lain, yang bisa mengarah pada tanggal maupun bulan penetapatan peristiwa.
“Apakah diluar tanggal 10 Oktober tidak dibolehkan menyelenggarakan musik saronen. Bila ingin dilanggengkan silakan, tapi penggagas harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan selanjutnya” kata Edhi yang juga mempertanyakan.
Hal ini juga dikuatkan oleh Tadjul Arifin R. Sejarawan Madura ini menyatakan tidak mudah menentukan sebuah peritiwa karena butuh proses dan penggalian serta keterlibatan semua pihak, khususnya para seniman dan budayawan yang tahu persip seperti apa saronen.
“Tampaknya panitia pelaksana tidak konsep matang, baik dalam pelaksanaan festival, apalagi mentapkan 10 Oktober sebagai hari festival saronen,” tukas Tadjul (mak)
Tags:
Sumenep
