![]() |
| Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo |
Madura Aktual,: Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengemukakan ancaman bangsa saat ini sudah masuk dalam sendi-sendi kehidupan. Diantaranya paham-paham radikal, terorisme, tayangan-tayangan media yang memperlihatkan kekerasan yang merupakan rekayasa sosial.
Hal itu disampaikan Gatot dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (29/4/16).
Sebelumnya, jenderal bintang empat ini menyampaikan hal tersebut saat memberikan kuliah umum dihadapan ribuan mahasiswa Universitas Lampung (Unila), tokoh masyarakat, tokoh agama dan unsur Pemda Kabupaten Kota se-Provinsi Lampung, di Unila, Lampung, Kamis (28/4).
Ia menjelaskan masyarakat yang tadinya santun, gotong royong dan rukun, tiba-tiba berubah sampai terjadi pembunuhan sadis, perkelahian antar suku, agama dan antar kelompok warga. Bahkan yang sangat memprihatinkan adalah terjadinya 22 kasus dalam tiga tahun yaitu pembakaran kampus yang dilakukan oleh mahasiswa.
"Ini bentuk ancaman dari tangan-tangan jahat yang tidak terlihat. Mereka merekayasa semuanya,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini, Indonesia tengah mewaspadai penyebaran Proxy War. Salah satu jenis peperangan ini masuk ke kategori perang yang mematikan. Proxy War diartikan sebagai peristiwa saling adu kekuatan di antara dua pihak yang bermusuhan, dengan menggunakan pihak ketiga.
Pihak ketiga ini dijelaskan sebagai pihak yang tidak dikenal oleh siapapun, kecuali pihak yang mengendalikannya dari jarak tertentu. Pihak-pihak seperti mahasiswa, ormas, lembaga masyarakat, dan perorangan disinyalir mudah menjadi boneka atau pihak ketiga tersebut.
“Saat ini sudah terasa yakni adanya Proxy War sudah mulai kita waspadai karena sudah menyusup ke sendi-sendi kehidupan berbangsa, bernegara dan berkeluarga. Caranya dengan menguasai media di Indonesia, dengan menciptakan adu domba TNI-Polri, rekayasa sosial, perubahan budaya, pemecah belah partai dan penyelundupan Narkoba sudah jauh-jauh hari dilakukan,” jelasnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Gatot mengajak semua komponen bangsa harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang cukup, keahlian sesuai bidangnya, menempa diri dengan pengalaman yang nyata di lapangan. Dengan demikian akan terbentuk karakter individu bangsa Indonesia yang kuat dan berwawasan kebangsaan. Pada akhirnya, dengan kekuatan karakter individu yang kuat tersebut, bangsa Indonesia akan mampu melawan dan menghancurkan Proxy War di Indonesia.
Dia meminta seluruh rakyat Indonesia agar tidak menyerah terhadap semua ancaman. Sebab bangsa ini memiliki modal geografi dengan potensi menjadi negara agraris yang berkelimpahan sumber daya alam. Sebagai negara maritim, bangsa ini memiliki sumber daya alam kelautan yang melimpah.
"Jika kedua potensi tersebut dikelola dan dikembangkan, maka akan menjadi daya tawar yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Keyakinan saya, para pemuda yang harus menjadi motor penggerak pemersatu dan kemajuan bangsa. Raihlah mimpimu, ajaklah teman-temanmu meraih mimpi bersama-sama dalam mewujudkan Indonesia yang jaya," tegasnya. (Berita Satu)
Hal itu disampaikan Gatot dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (29/4/16).
Sebelumnya, jenderal bintang empat ini menyampaikan hal tersebut saat memberikan kuliah umum dihadapan ribuan mahasiswa Universitas Lampung (Unila), tokoh masyarakat, tokoh agama dan unsur Pemda Kabupaten Kota se-Provinsi Lampung, di Unila, Lampung, Kamis (28/4).
Ia menjelaskan masyarakat yang tadinya santun, gotong royong dan rukun, tiba-tiba berubah sampai terjadi pembunuhan sadis, perkelahian antar suku, agama dan antar kelompok warga. Bahkan yang sangat memprihatinkan adalah terjadinya 22 kasus dalam tiga tahun yaitu pembakaran kampus yang dilakukan oleh mahasiswa.
"Ini bentuk ancaman dari tangan-tangan jahat yang tidak terlihat. Mereka merekayasa semuanya,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini, Indonesia tengah mewaspadai penyebaran Proxy War. Salah satu jenis peperangan ini masuk ke kategori perang yang mematikan. Proxy War diartikan sebagai peristiwa saling adu kekuatan di antara dua pihak yang bermusuhan, dengan menggunakan pihak ketiga.
Pihak ketiga ini dijelaskan sebagai pihak yang tidak dikenal oleh siapapun, kecuali pihak yang mengendalikannya dari jarak tertentu. Pihak-pihak seperti mahasiswa, ormas, lembaga masyarakat, dan perorangan disinyalir mudah menjadi boneka atau pihak ketiga tersebut.
“Saat ini sudah terasa yakni adanya Proxy War sudah mulai kita waspadai karena sudah menyusup ke sendi-sendi kehidupan berbangsa, bernegara dan berkeluarga. Caranya dengan menguasai media di Indonesia, dengan menciptakan adu domba TNI-Polri, rekayasa sosial, perubahan budaya, pemecah belah partai dan penyelundupan Narkoba sudah jauh-jauh hari dilakukan,” jelasnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Gatot mengajak semua komponen bangsa harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang cukup, keahlian sesuai bidangnya, menempa diri dengan pengalaman yang nyata di lapangan. Dengan demikian akan terbentuk karakter individu bangsa Indonesia yang kuat dan berwawasan kebangsaan. Pada akhirnya, dengan kekuatan karakter individu yang kuat tersebut, bangsa Indonesia akan mampu melawan dan menghancurkan Proxy War di Indonesia.
Dia meminta seluruh rakyat Indonesia agar tidak menyerah terhadap semua ancaman. Sebab bangsa ini memiliki modal geografi dengan potensi menjadi negara agraris yang berkelimpahan sumber daya alam. Sebagai negara maritim, bangsa ini memiliki sumber daya alam kelautan yang melimpah.
"Jika kedua potensi tersebut dikelola dan dikembangkan, maka akan menjadi daya tawar yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Keyakinan saya, para pemuda yang harus menjadi motor penggerak pemersatu dan kemajuan bangsa. Raihlah mimpimu, ajaklah teman-temanmu meraih mimpi bersama-sama dalam mewujudkan Indonesia yang jaya," tegasnya. (Berita Satu)
Tags:
Fokus
