Pergantian tahun baru Islam bukan sekadar seremoni angka yang berganti. 1 Muharram 1447 H adalah momentum muhasabah, hijrah dari kelalaian menuju ketakwaan, dan meneguhkan kembali komitmen kita sebagai hamba Allah. Tulisan ini mengajak untuk merenungi perjalanan waktu, meneladani spirit hijrah Rasulullah SAW, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas hidup menuju akhirat.
Umat muslim kini kembali akan menyambut 1 Muharram 1447 Hijriah. Tanpa terasa, hari telah berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun pun terus bergulir tanpa jeda. Waktu terus berjalan sesuai garis edarnya, konsisten dan tidak pernah kompromi. Ia tidak menghiraukan perilaku manusia yang sejatinya tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Apakah yang dilakukan manusia telah sesuai dengan ketentuan Islam atau justru menyimpang, waktu tidak bertanggung jawab atas itu. Ia terus mengalir tak terbatas, dingin, dan tanpa mempedulikan siapa yang siap atau siapa yang masih lalai.
Maka dengan bergantinya waktu itu, ada satu hal yang pasti: umur kita semakin berkurang. Jatah hidup di dunia semakin menipis, sementara ajal semakin mendekat langkah demi langkah. Padahal, jika kita jujur menilai diri, amal ibadah untuk meningkatkan ketakwaan dan menguatkan keimanan kepada Allah sebagai investasi diri di akhirat kelak, belum juga sempurna. Masih terdapat banyak “lubang” menganga penuh kekurangan, kelalaian, dan dosa. Shalat masih sering diakhir waktu, sedekah masih pilih-pilih, lisan masih sulit dijaga, dan hati masih mudah dengki.
Padahal di sisi lain, karunia Allah terus mengalir deras tiada henti. Nikmat sehat, oksigen gratis, rezeki yang tidak putus, hingga nikmat iman dan Islam. Semua itu tercurah seperti sinar matahari yang menyinari bumi tanpa bosan, tanpa pernah menagih bayaran. Dari itu, rasanya terlalu sombong dan terlalu dini bila ada manusia mengaku sebagai hamba Allah paling bertakwa dan paling mensyukuri karunia-Nya yang tak terhingga. Karena hakikat syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah, melainkan menggunakan nikmat itu untuk taat kepada Sang Pemberi Nikmat.
Sayangnya, realitas kebanyakan manusia hari ini masih lebih mengagumi dan “gila” dunia, jarang—untuk tidak mengatakan tidak ada—yang benar-benar mencintai akhirat sepenuh hati. Terbukti, berbagai kesibukan demi kepentingan dunia seperti target di ruang kerja, rapat di kantor, panen di ladang, dan urusan bisnis selalu dinomorsatukan. Sementara kepentingan akhirat yang lebih kekal justru sering dinomorduakan.
Contoh paling sederhana: ketika muadzin mengumandangkan adzan sebagai tanda masuknya waktu shalat, berapa banyak dari kita yang bisa segera bergegas? Yang sering terjadi, kita masih menunda “lima menit lagi” sampai selesainya pekerjaan yang sedang digarap. Yang lebih memprihatinkan, seringkali umat Nabi Muhammad yang lemah iman mencari-cari alasan rasional untuk tidak melaksanakan shalat. “Tanggung, nanti sekalian”, “pakaian kotor”, “rapat penting”. Bahkan kalaupun melaksanakannya, dikerjakan dengan terburu-buru seakan dikejar waktu. Padahal shalat merupakan tiang agama. Shalat adalah ruh ajaran Islam. Jika tiangnya rapuh, bagaimana bangunan keislaman kita bisa tegak?
Maka dengan datangnya tahun baru hijriyah ini, seharusnya lahir semangat baru untuk lebih mengokohkan dan meningkatkan keberimanan kepada Allah. 1 Muharram bukan sekadar ganti kalender. Ia adalah madrasah untuk menelaah kembali sejarah hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Makkah menuju kota Madinah, Al-Madinah An-Nabawiyah. Spirit yang terkandung dalam peristiwa hijrah yang sangat sakral itu tidak berhenti pada makna fisik: perpindahan geografis Rasulullah dan para sahabat. Lebih dari itu, hijrah adalah simbol perjuangan melawan hawa nafsu, melawan godaan setan, dan melawan kenyamanan dalam kemaksiatan.
Karena itu, setiap muslim sejatinya wajib “hijrah” setiap saat. Hijrah dari kehidupan yang melemahkan keimanan menuju kehidupan yang dapat meningkatkan ketakwaan pada Sang Khaliq. Hijrah dari menunda shalat menjadi menyegerakan. Hijrah dari lisan yang suka ghibah menjadi lisan yang basah dengan dzikir. Hijrah dari rezeki yang syubhat menjadi rezeki yang halal dan thayyib. Hijrah dari hati yang penuh dendam menjadi hati yang lapang memaafkan.
Dengan demikian, bila pada waktu-waktu sebelumnya kita seringkali melakukan perbuatan yang tidak diridhai-Nya serta berulang kali melanggar ketetapan Allah, maka di tahun baru ini selayaknya kita bertaubat dengan sungguh-sungguh. Inilah momentum untuk taubatan nasuha—taubat yang sebenar-benarnya, berjanji tidak akan mengulanginya kembali pada masa mendatang, dan mengiringinya dengan amal saleh.
Mengapa harus segera? Sebab, manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti kapan nyawa akan dicabut Malaikat Maut. Apakah besok, lusa, bulan depan, tahun mendatang, atau bahkan sebentar lagi setelah membaca tulisan ini, tidak ada yang mengetahuinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya” (QS. Al-A’raf: 34). Dan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Tidak satu pun makhluk di dunia yang dapat mengelak dari janji-Nya. Setiap hamba Allah pasti akan mengalami mati. Kullu nafsin dzaaiqatul maut. Tidak ada makhluk yang kekal hidup di dunia. Setiap sesuatu selain Allah adalah baru, dan tidak ada keabadian bagi yang baru. Kekal dan abadi hanya milik Allah, Tuhan Sang Pencipta. Manusia dan makhluk lain hanya numpang sementara pada “kendaraan” bernama dunia.
Sebagai penumpang, tentu tidak selayaknya kita bersikap sombong dan egois, karena penumpang tidak mempunyai hak untuk memiliki kendaraan yang ditumpanginya. Tugas penumpang hanyalah “membayar ongkos” selama perjalanan. Dan ongkos hidup di dunia ini adalah beriman dan bertakwa kepada Sang Pemilik kendaraan, yakni Allah, penguasa dan pemilik alam beserta isinya. Untuk itu, segera bertaubat, jangan menunda waktu. Karena pekerjaan menunda-nunda adalah bisikan dan tipu daya setan. “Nanti saja kalau sudah tua”, padahal tua pun bukan jaminan masih diberi kesempatan.
Selain itu, peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah yang menjadi awal lahirnya tahun hijriyah, mengingatkan kita pada satu peristiwa maha dahsyat lainnya: turunnya Al-Qur’an. Kitab suci umat Islam. Al-Qur’an sebagai kalamullah, selain berisi tuntunan kehidupan sosial, berkeluarga, dan bermasyarakat, juga sarat dengan ajaran mengenai keimanan dan ketakwaan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Namun berbagai tuntunan yang termaktub dalam mushaf Al-Qur’an tidak hanya untuk dijadikan hiasan di lemari atau sekadar dibaca dengan tartil lalu selesai. Ia harus diejawantahkan dalam kehidupan nyata. Nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, kesabaran, dan kepedulian sosial dalam Al-Qur’an harus menjadi napas dalam dialektika kita dengan lingkungan. Ayat-ayat tentang shalat, zakat, dan zikir harus menjadi ruh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Menerjemahkan intisari yang terkandung dalam Al-Qur’an ke dalam kehidupan riil adalah investasi diri yang sangat berharga menuju kehidupan yang lebih kekal di akhirat kelak. Sebab apa yang kita tanam di dunia, itulah yang akan kita tuai di sana.
Akhirnya, semoga tahun baru Islam 1447 H ini benar-benar menjadi awal dan jembatan dalam meningkatkan kedekatan kita kepada Allah SWT. Jadikan 1 Muharram sebagai hari lahirnya versi terbaik dari diri kita: yang lebih taat, lebih syukur, dan lebih siap pulang menghadap-Nya dengan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
(Sahidah)