Teknologi Internal dan Mentalitas Bertahan Hidup | Suara Terkini dari Madura

Teknologi Internal dan Mentalitas Bertahan Hidup


Dalam pandangan Emha Ainun Nadjib, masyarakat Nusantara memiliki sesuatu yang disebut “teknologi internal”. Berbeda dengan bangsa-bangsa modern yang mengembangkan “teknologi eksternal” berupa mesin, industri, dan infrastruktur, masyarakat Indonesia justru lebih banyak mengandalkan kekuatan batin untuk bertahan hidup.

Teknologi internal adalah kemampuan mengolah mental dan emosi untuk menghadapi kesulitan hidup. Ketika keadaan sulit, masyarakat memilih “mupus”, pasrah, lalu menyerahkan semuanya kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa “Gusti Allah mboten sare”.

Mentalitas ini membuat rakyat Indonesia sangat tangguh menghadapi penderitaan. Gaji tidak cukup, pekerjaan tidak pasti, hidup serba kekurangan, tetapi mereka tetap bisa bertahan. Bahkan dalam situasi yang secara teori seharusnya membuat negara runtuh, masyarakat tetap menjalani hidup dengan tenang.

Namun, menurut Emha, ketangguhan ini sekaligus menjadi masalah. Karena terlalu kuat bertahan, masyarakat menjadi terbiasa menerima penderitaan tanpa perlawanan serius. Kebobrokan pemerintah, kenaikan harga, korupsi, dan ketidakadilan hanya memunculkan kemarahan sesaat sebelum akhirnya dianggap biasa.

Di sisi lain, budaya bertahan hidup ini menciptakan ruang kompromi terhadap berbagai bentuk penyimpangan. Banyak orang akhirnya memaklumi praktik korupsi kecil demi kelangsungan hidup. Dari sinilah budaya korupsi tumbuh perlahan dalam kehidupan sosial masyarakat.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama