Sering mendengar adagium “tadha’ guru kala ka mored”. Suatu adagium yang bisa dijadikan bahan awal untuk melacak “antropologi guru” dalam kebudayaan masyarakat Madura.
Bagaimana sebenarnya kebudayaan Madura memandang guru? Bagaimana guru memandang dirinya? Pertanyaan yang saya anggap penting sebelum guru di Madura membincangkan otonomi pendidikan, kurikulum berbasis kompetensi, managemen berbasis sekolah, dan istilah-istilah lain yang lebih banyak membingungkan daripada mencerahkan.
Meski tidak
sepenuhnya yakin, tapi saya masih percaya adagium di atas mengakar kuat dalam stratum alam (bawah) sadar kebanyakan
guru di Madura. Adagium yang mendasari pandangan, sikap dan prilaku ketika
membangun relasi secara dominatif dengan siswanya.
Seandainya
keyakinan saya benar, bisa dibayangkan bagaimana sekolah berubah menjadi
institusi yang otoriter. Ruang kelas menjadi (di)mati(kan). Karena yang terjadi monolog, bukan
dialog. Dan guru—atau lebih sreg
disebut penguasa—berdiri tegap sebagai sosok yang paling benar, maha tahu,
pemilik kebenaran, atau yang lebih ekstrim lagi adalah kebenaran itu sendiri.
Ruang kelas
yang sejatinya menjadi locus
bersemainya pemikiran-pemikiran cerdas berubah fungsi menjadi locus untuk menggelar kuasa dan “kebenaran”. Guru menjadi sosok yang tak
terbantahkan (absolutely right), tak
tersentuh (untouchable) dan tak dapat
dikritik (uncritical).
Dalam relasi
yang tidak setara semacam ini sulit kita membayangkan proses pembelajaran akan
menjadi sesuatu yang produktif. Siswa juga akan mengalami kesulitan mengaitkan
pengetahuan dengan pengalaman kesejarahan mereka. Tidak adanya ruang untuk
terlibat dalam memproduksi pengetahuan menjadikan siswa malas berpikir.
Pengetahuan adalah mereproduksi ujaran verbal yang disampaikan gurunya. Tak
lebih. Bisa dipahami jika kadang-kadang siswa dibuat linglung ketika berhadapan dengan persoalan baru.
Ada satu hal yang mungkin
luput dalam pengamatan banyak guru bahwa era sekarang adalah era “tanpa batas”.
Siswa bisa mengakses pengetahuan tidak lagi hanya dari guru tapi bisa melalui
tehnologi informasi seperti buku, surat
kabar, majalah, tv, video, dan internet. Pengetahuan menjadi terbuka untuk
dipelajari. Dengan begitu, guru tidak bisa mengklaim sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan. Kemudahan mengakses tehnologi informasi telah menjadi “guru
baru” bagi siswa.
Gampangnya
siswa memperoleh pengetahuan dari sumber lain seharusnya menjadikan guru lapang
dada men-share pengetahuannya. Guru
tidak harus meneguhkan kuasanya sebagai satu-satunya pemilik pengetahuan.
Karena sharing meniscayakan kesediaan
untuk saling berbagi bukan monopoli, berdialog bukan monolog, terbuka bukan
tertutup.
Kesiapan
guru untuk berbagi pengetahuan sepertinya memang tidak bisa ditunda-tunda
paling tidak karena dua alasan. Pertama,
ada ruang bagi siswa untuk melahirkan pikiran-pikiran cerdas. Tidak melulu
mereproduksi tetapi juga memproduksi. Siswa juga tidak dihantui ketakutan
psikologis untuk menyatakan pendapatnya karena kelas telah menjadai sarana
pembelajaran dalam arti sesungguhnya.
Kedua, ada ruang bagi siswa untuk
mengintegrasikan pengalaman pengetahuan mereka yang diperoleh melalui keluarga,
masyarakat atau pengetahuan yang disebar oleh kemudahan mengakses tehnologi
informasi dengan pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah. Karena harus
diakui pengetahuan yang diakses melalui tehnologi informasi yang tanpa batas
itu seringkali bertabrakan dengan pengetahuan siswa yang diperoleh di keluarga,
sekolah dan masyarakat. Adalah tugas guru, disamping keluarga dan masyarakat,
untuk memberikan kerangka etik bagi pengetahuan siswa agar tetap memiliki
ketajaman spiritual dan etik untuk survive
dalam era yang serba tak pasti ini.
Dua hal di
atas baru bisa diwujudkan manakala ada kesedian guru merubah mind setnya dalam membangun relasi
dengan siswanya. Relasi tidak lagi dibangun atas dasar subyek-obyek di hadapan
pengetahuan. Semua duduk dalam kesetaraan sebagai manusia pembelajar. Tugas
guru lebih sebagai fasilitator yang
memfasilitasi siswanya untuk sampai pada pengetahuan.
Posisi yang
setara bukan berarti guru harus kehilangan otoritasnya. Kehilangan otoritas
akan menjadikan ruang belajar chaos.
Yang harus disadari otoritas itu bukan dalam rangka mendominasi, tetapi untuk
membebaskan. Otoritas itu juga harus diletakkan dalam kerangka etis dimana
proses belajar berlangsung dalam kejujuran, kasih sayang, keadilan, toleran dan
nilai-nilai luhur lainnya. Walhasil,
tugas guru sekarang adalah memotong makna teks “tadha’ guru kala ka mored” dengan konteksnya. Wallahu a’lam ®
Tags:
Serpihan
