Darurat Narkoba di Jawa Timur | Suara Terkini dari Madura

Darurat Narkoba di Jawa Timur

Madura Aktual, Peredaran Narkoba di Jawa Timur dari tahun ke tahun kian meningkat. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Timur menyebutkan, pada tahun 2013 lalu 24 pengedar berhasil dibekuk. Sementara tahun ini bertambah menjadi 30 pengedar yang berhasil ditangkap.

Adapun Barang bukti yang berhasil disita dari total 30 pengedar tersebut adalah 6 kilogram sabu-sabu, 80 ribu butir pil double L alias pil koplo, dan 0,92 serbuk berwarna kuning. 

Sementara itu dari sisi keseluruhan kasus narkoba di Jatim sepanjang 2013 terdapat 2.562 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 3.189 orang. Jumlah ini sedikit menurun tahun ini dengan berhasil diungkapnya 1.630 kasus dengan total tersangka sejumlah 2.048 orang.

Dan sepanjang tahun 2014 lalu, kasus peredaran narkotika didominasi penyelundupan sabu-sabu dan bahan baku ekstasi. Narkoba yang masuk ke Jatim ini berasal dari luar negeri diantaranya adalah India, Tiongkok, Turki, dan Belanda.


Kedatangan bahan baku ekstasi dan sabu-sabu ini disinyalir merupakan jaringan pabrik rumahan yang menyuplai konsumen hingga di tingkat desa. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan BNN dalam membongkar kampung narkoba di Desa Rabesan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura. Bahkan keberadaan kampung narkoba sudah meluas di pulau Madura mulai dari Bangkalan, Pamekasan hingga Sumenep

“Selama ini memang kasus narkoba di Madura secara data tidak tercatat, tapi dari laporan kasus justru kebanyakan dari sana,” tukas Drg. Sudjiarti, M.Kes ini terheran-heran.

Masih terkait kasus kampung narkoba di Socah, sebelumnya secara random sampling BNNP Jatim melakukan tes urine warga di desa yang terletak di daerah pesisir tersebut. Dari warga sekitar Socah mulai dari pekerja dan ibuibu yang diambil sample urine, ternyata hasilnya mengejutkan. Hampir 90 persen lebih menunjukkan positif pengguna narkoba.

“Dari sini kami berkesimpulan, di sepanjang wilayah pesisir perlu ada pengawasan lebih,” tandas Kepala Bidang Pencegahan BNNP Prov. Jatim ini mengingatkan. “Sebab daerah pesisir kini menjadi pintu masuk strategis peredaran narkoba,” imbuhnya meyakinkan.

Sementara itu, berdasarkan daerah dengan tingkat peredaran tertinggi dari tahun ketahun masih diraih oleh Kota Surabaya dengan jumlah kasus sepanjang tahun 2014 lalu sebanyak 301 kasus dengan tersangka 389 orang. Di bawah

Kota Surabaya, ada Kabupaten Kediri dengan jumlah kasus 97 dengan 117 orang tersangka. Lalu disusul Sidoarjo dengan 85 kasus narkoba yang berhasil diungkap dengan total tersangka sebanyak 109 orang. Dan berikutnya adalah Banyuwangi dengan 59 kasus dan 71 orang tersangka.

“Meski tahun ini ada penurunan kasus, tapi rangking daerah tidak banyak mengalami perubahan,” ucap wanita berkacamata minus ini menjelaskan.

Demi mencegah maraknya kasus narkoba, BNNP Jatimpun telah menggandeng berbagai pihak diantaranya adalah instansi yang disinyalir berisko tinggi terhadap penyebaan narkoba seperti Dinas Perhuhungan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bea Cukai dan Pelabuhan. Sebab di sanalah yang paling riskan terjadi modus-modus penyelundupan narkoba.

Meski BNNP Jatim gencar melakukan perang terhadap narkoba, ternyata hingga saat ini di seluruh Jatim baru ada 13 kantor BNN di kabupaten/kota. Artinya, selama ini BNNP masih kekurangan kepanjangan tangan hingga di daerah.

Biasanya di daerah yang belum memiliki BNN, tugas pemberantasan narkoba melekat di Bakesbang setempat. Diakui atau tidak ini tentu juga menjadi masalah tersendiri.

Namun demikian, BNNP Jatim tetap berusaha memaksimalkan kebijakan tupoksi tentang P4GN (Program Pemberantasan Penyalagunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) di setiap instansi pemerintah seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan BKKBN serta kepolisian.

“Kami juga berharap pada masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap anak-anaknya. Sebab kita saat ini sedang menghadapi darurat narkoba,” himbau wanita kelahiran Pontianak 14 Februari 1961 ini. (Pri)
Lebih baru Lebih lama