Apakah yang disebut Tradisi Lisan? Wikipedia menyatakan, bahwa tradisi lisan, budaya lisan dan adat lisan adalah pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pesan atau kesaksian itu disampaikan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasihat, balada, atau lagu. Pada cara ini, maka mungkinlah suatu masyarakat dapat menyampaikan sejarah lisan, sastra lisan, hukum lisan dan pengetahuan lainnya ke generasi penerusnya tanpa melibatkan bahasa tulisan.
Dalam suatu komunitas yang tidak memiliki aksara sendiri, maka peranan tradisi lisan amat sangat penting dan sekaligus rawan untuk punah. Karena itu diperlukan rekayasa untuk mempertahankan (dan mengembangkan) tradisi lisan, sebagaimana (sekadar contoh) yang sudah dilakukan dalam seni pertunjukan Alalabang, ketika mengemas tradisi lisan Mamaca.
Rekayasa tradisi lisan, bisa bertujuan baik, namun bisa juga sebaliknya. Itu sebabnya mengapa kebanyakan dongeng yang menyebutkan penjajah (Belanda) selalu berakhir kekalahan sang jagoan (Sakerah, Sarip Tambak Oso, Si Pitung dll). Dalam hal ini rekayasa dilakukan untuk meredam perlawanan pribumi terhadap Belanda.
Dalam era kemajuan teknologi sekarang ini, masih juga dilakukan rekayasa dongeng untuk membenarkan pihak tertentu. Misalnya saja, dongeng Timun Emas yang berasal dari Jawa Tengah, diklaim sebagai dongeng Jawa Timur untuk membenarkan bahwa semburan lumpur Lapindo memang pernah terjadi dan sudah “diramalkan” sekian ratus tahun yang lalu. Dalam dongeng Timun Emas memang disebutkan, ada perempuan mampu menciptakan lautan lumpur sehingga raksasa tenggelam di dalamnya.
Cerita Panji adalah salah satu tradisi lisan yang melegenda, populer sejak zaman Majapahit, menyebar ke berbagai daerah bahkan ke negara-negara Asia selatan. Cerita Panji dipahatkan di relief puluhan candi, diceritakan dalam banyak seni pertunjukan, dan ditulis dalam ratusan naskah kuno (yang sebagian besar tersimpan di Belanda), serta sekian banyak kidung dan sastra lisan serta seni rupa berbasis Cerita Panji. Pertanyaannya, mengapa kita sendiri tidak mengenal dan memahami Cerita Panji? Asal tahu saja, Cerita Panji justru menjadi bacaan wajib di Thailand karena rajanya sendiri menulis bukunya, dengan sebutan Cerita Inao dan Puteri Bossaba.
Apakah kita masih meremehkan tradisi lisan? Dimanakah peranan dongeng dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita hanya menganggap dongeng hanyalah kenangan masa kecil yang pantas dilupakan? Masih banyak tradisi lisan yang kita abaikan dan hanya dianggap sebagai masa lalu yang usang dan layak dibuang. Apakah kita hanya berdiam diri? Mari kita berdiskusi.
Problem ini akan diungkap oleh Henri Nurcahyo, seorang penulis puluhan buku yang dilaksnakan Forum Bias Sumenep dalam sebuah dialog budaya dengan mengangkat topik “Tradisi Lisan dan Rekayasa Budaya”.
Menurut Syaf Anton Wr, penyair dan budayawan Madura selalu penggerak Forum Bias menyatakan, dialog akan berlangsung hari Senin besok pagi, 8 Pebruari 2016 di Art Gallery, Jl. A. Yani 269 Pajagalan Sumenep.
“Siapapun boleh mengikuti, tanpa harus diundang”, tukasnya (san)
Pesan atau kesaksian itu disampaikan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasihat, balada, atau lagu. Pada cara ini, maka mungkinlah suatu masyarakat dapat menyampaikan sejarah lisan, sastra lisan, hukum lisan dan pengetahuan lainnya ke generasi penerusnya tanpa melibatkan bahasa tulisan.
Dalam suatu komunitas yang tidak memiliki aksara sendiri, maka peranan tradisi lisan amat sangat penting dan sekaligus rawan untuk punah. Karena itu diperlukan rekayasa untuk mempertahankan (dan mengembangkan) tradisi lisan, sebagaimana (sekadar contoh) yang sudah dilakukan dalam seni pertunjukan Alalabang, ketika mengemas tradisi lisan Mamaca.
Rekayasa tradisi lisan, bisa bertujuan baik, namun bisa juga sebaliknya. Itu sebabnya mengapa kebanyakan dongeng yang menyebutkan penjajah (Belanda) selalu berakhir kekalahan sang jagoan (Sakerah, Sarip Tambak Oso, Si Pitung dll). Dalam hal ini rekayasa dilakukan untuk meredam perlawanan pribumi terhadap Belanda.
Dalam era kemajuan teknologi sekarang ini, masih juga dilakukan rekayasa dongeng untuk membenarkan pihak tertentu. Misalnya saja, dongeng Timun Emas yang berasal dari Jawa Tengah, diklaim sebagai dongeng Jawa Timur untuk membenarkan bahwa semburan lumpur Lapindo memang pernah terjadi dan sudah “diramalkan” sekian ratus tahun yang lalu. Dalam dongeng Timun Emas memang disebutkan, ada perempuan mampu menciptakan lautan lumpur sehingga raksasa tenggelam di dalamnya.
Cerita Panji adalah salah satu tradisi lisan yang melegenda, populer sejak zaman Majapahit, menyebar ke berbagai daerah bahkan ke negara-negara Asia selatan. Cerita Panji dipahatkan di relief puluhan candi, diceritakan dalam banyak seni pertunjukan, dan ditulis dalam ratusan naskah kuno (yang sebagian besar tersimpan di Belanda), serta sekian banyak kidung dan sastra lisan serta seni rupa berbasis Cerita Panji. Pertanyaannya, mengapa kita sendiri tidak mengenal dan memahami Cerita Panji? Asal tahu saja, Cerita Panji justru menjadi bacaan wajib di Thailand karena rajanya sendiri menulis bukunya, dengan sebutan Cerita Inao dan Puteri Bossaba.
Apakah kita masih meremehkan tradisi lisan? Dimanakah peranan dongeng dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita hanya menganggap dongeng hanyalah kenangan masa kecil yang pantas dilupakan? Masih banyak tradisi lisan yang kita abaikan dan hanya dianggap sebagai masa lalu yang usang dan layak dibuang. Apakah kita hanya berdiam diri? Mari kita berdiskusi.
Problem ini akan diungkap oleh Henri Nurcahyo, seorang penulis puluhan buku yang dilaksnakan Forum Bias Sumenep dalam sebuah dialog budaya dengan mengangkat topik “Tradisi Lisan dan Rekayasa Budaya”.
Menurut Syaf Anton Wr, penyair dan budayawan Madura selalu penggerak Forum Bias menyatakan, dialog akan berlangsung hari Senin besok pagi, 8 Pebruari 2016 di Art Gallery, Jl. A. Yani 269 Pajagalan Sumenep.
“Siapapun boleh mengikuti, tanpa harus diundang”, tukasnya (san)
Tags:
Serpihan
