Madura Aktual, Sumenep: “Rencana buku ini bisa dikatakan mendadak, bermula pada pertemuan antara Lembaga Seni dan Sastra (LSS) Reboeng dengan penyair muda Madura yang bermukim di Yogyakarta pada minggu ketiga November 2015 lalu”, ungkap penyair Raedu Basha pada Madura Aktual (2/2/16).
Ia menceritakan, awal mulanya ia bersama penyair asal Madura yang lain yang ada di Jogyakarta, Shohifur Ridho Ilahi dan Selendang Sulaiman berjumpa dengan Nana Ernawati Direktur LSS Reboeng dan penyair Jogyakarta, Iman Budi Santoso.
“Rasanya kami butuh personel, kami pun menambah banyak orang sehingga "genap" 9 orang, seperti walisongo saja. Kami menyebut tim ini sebagai tim 9 penyair muda Madura mutakhir,” jelasnya
Menurutnya, proses ini tidak sampai seminggu dan langsung membuka informasi penyaringan naskah puisi penyair muda Madurapada minggu keempat dan ditutup sebulan kemudian.
“Timing kami memang kurang efisien bagi sebuah penyaringan karya, namun kami tahu siapa saja penyair madura, sehingga kami sering mengontak langsung komunitas, para penyair muda Madura, serta para senior maupun sesepuh seniman Madura agar membantu para pemuda Madura mengirimkan karya,” urainya.
Tak hanya itu, pihaknya juga membuka arsip dan mengambil karya puisi penyair muda dengan kriteria umur maksimal 30 tahun per Desember 2015, baik telah terbit media, buku maupun belum diterbitkan.
“Ternyata pengirim naskah puisi cukup banyak, mencapai 137 nama penyair muda Madura. Nama dan puisi tersebut kemudian dikurasi oleh para senior yang ditunjuk antara lain M Faizi, Syaf Anton Wr dan terakhir Jamal D. Rahman yg sekaligus editor, akhirnya terpilih 41 nama penyair,” ujarnya.
Buku puisi penyair muda Madura yang kemudian diberi judul “Ketam Ladam Rumah Ingatan” itu akan diluncurkan 20 Februari 2016 di Pendopo Keraton Sumenep Madura.
“Alhamdulillah usaha ini mendapat respon positif dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh seniman, akademisi bahkan apresiasi masyarakat sastra di Madura pada khususnya, juga para sponsor,” ungkap mahasiswa Pascasarjana Ilmu Antropologi UGM.
Dikatakannya Buku “Ketam Ladam Rumah Ingatan”, memiliki ketebalan 300 halaman, dipengantari oleh editor Jamal D Rahman yang merupakan Pemred Majalah Sastra Horison dan dan epilog diulas oleh Prof.Dr.Abdul Hadi WM sastrawan asal Madura termasuk penyair angkatan 66.
“Harapan buku ini menjadi referensi sejarah bagi geliat sastra di Madura dan menjadi sumbangan penting bagi perjalanan sastra Indonesia yang hampir berumur satu abad ini”, ujar penyair asal Sumenep itu.
Raedu menuturkan, ledakan penulis puisi dari Madura memang fenomenal dalam waktu kekinian membuat banyak orang bertanya-tanya ada apa di Madura? “Termasuk LSS Reboeng yang sangat berminat menerbitkan buku yang bersejarah ini,” pungkasnya(dzul)
Ia menceritakan, awal mulanya ia bersama penyair asal Madura yang lain yang ada di Jogyakarta, Shohifur Ridho Ilahi dan Selendang Sulaiman berjumpa dengan Nana Ernawati Direktur LSS Reboeng dan penyair Jogyakarta, Iman Budi Santoso.
“Rasanya kami butuh personel, kami pun menambah banyak orang sehingga "genap" 9 orang, seperti walisongo saja. Kami menyebut tim ini sebagai tim 9 penyair muda Madura mutakhir,” jelasnya
Menurutnya, proses ini tidak sampai seminggu dan langsung membuka informasi penyaringan naskah puisi penyair muda Madurapada minggu keempat dan ditutup sebulan kemudian.
“Timing kami memang kurang efisien bagi sebuah penyaringan karya, namun kami tahu siapa saja penyair madura, sehingga kami sering mengontak langsung komunitas, para penyair muda Madura, serta para senior maupun sesepuh seniman Madura agar membantu para pemuda Madura mengirimkan karya,” urainya.
Tak hanya itu, pihaknya juga membuka arsip dan mengambil karya puisi penyair muda dengan kriteria umur maksimal 30 tahun per Desember 2015, baik telah terbit media, buku maupun belum diterbitkan.
“Ternyata pengirim naskah puisi cukup banyak, mencapai 137 nama penyair muda Madura. Nama dan puisi tersebut kemudian dikurasi oleh para senior yang ditunjuk antara lain M Faizi, Syaf Anton Wr dan terakhir Jamal D. Rahman yg sekaligus editor, akhirnya terpilih 41 nama penyair,” ujarnya.
Buku puisi penyair muda Madura yang kemudian diberi judul “Ketam Ladam Rumah Ingatan” itu akan diluncurkan 20 Februari 2016 di Pendopo Keraton Sumenep Madura.
“Alhamdulillah usaha ini mendapat respon positif dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh seniman, akademisi bahkan apresiasi masyarakat sastra di Madura pada khususnya, juga para sponsor,” ungkap mahasiswa Pascasarjana Ilmu Antropologi UGM.
Dikatakannya Buku “Ketam Ladam Rumah Ingatan”, memiliki ketebalan 300 halaman, dipengantari oleh editor Jamal D Rahman yang merupakan Pemred Majalah Sastra Horison dan dan epilog diulas oleh Prof.Dr.Abdul Hadi WM sastrawan asal Madura termasuk penyair angkatan 66.
“Harapan buku ini menjadi referensi sejarah bagi geliat sastra di Madura dan menjadi sumbangan penting bagi perjalanan sastra Indonesia yang hampir berumur satu abad ini”, ujar penyair asal Sumenep itu.
Raedu menuturkan, ledakan penulis puisi dari Madura memang fenomenal dalam waktu kekinian membuat banyak orang bertanya-tanya ada apa di Madura? “Termasuk LSS Reboeng yang sangat berminat menerbitkan buku yang bersejarah ini,” pungkasnya(dzul)
Tags:
Fokus