Fokus Aktual

Pilkada

Serpihan

Figur Inspiratif

Bangkalan Aktual

Sampang Aktual

Pamekasan Aktual

Sumenep Aktual

Ekspose

Pengoperasian Bandara Pagerunggan Dipertanyakan
KEI tidak respon terhadap penerbangan Sumenep-Kepulauan

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 28 November 2018 |

Madura_Aktual, Sumenep; Soal pengoperasian Bandara Pagerunggan, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim) ditanyakan oleh sejumlah kalangan, baik dari Komisi III DPRD Sumenep maupun masyarakat. Bahkan, ada yang menilai PT Kangean Energy Indonesia (KEI) tidak respon terhadap penerbangan Sumenep-Kepulauan tersebut.

Akhirnya, Manajemen PT Kangean Energy Indonesia (KEI) angkat bicara persoalan belum digunakannya Bandara Pegerungan, Kecamatan/Pulau Sapeken. Melainkan, pada saat ini PT KEI masih menunggu surat dari Kementerian terkait perubahan status Bandara Khusus menjadi Bandara Umum.

“Kami masih menunggu surat keputusan menteri untuk perubahan status bandara khusus menjadi bandara umum. Sekali lagi, KEI sangat mensupport keinginan itu,” kata Manager Public and Government Affairs, Kangean Energy Indonesia Ltd, Hanip Suprapto, melalui Penanggungjawab Bandara Khusus Pagerungang, Tjutju Suhendar, Rabu (28/11/2018) kepada awak media 


Ia mengatakan, sejak awal KEI sangat mendukung rencana menggunakan Bandara Pagerungan untuk penerbangan perintis. Apalagi, sudah ada surat dari SKK migas menanggapi keinginan Pemkab Sumenep untuk menggunakan pesawat ‘fixed Wing di Bandara Pagerungan.

“Kami sangat support keinginan Pemkab, sebagaimana surat menyurat persiapan yang sudah dilakukan bersama pihak terkait, seperti SKK migas, Dinas Perhubungan, Bandara Trunojoyo, juga Dirjen Perhubungan,” ujarnya.

Sementara, Bandara Pagerungan di Pulau Pagerungan, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep merupakan bandara yang dikelola salah satu kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas, yakni Kangean Energy Indonesia (KEI). Selama ini, bandara tersebut merupakan bandara khusus yang hanya dipergunakan untuk kepentingan dan kelancaran operasional perusahaan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Daerah (Pemda) Sumenep melayangkan surat permohonan ke Kemenkeu, SKK Migas, dan Kangean Energy Indonesia (KEI) untuk memanfaatkan Bandara Pagerungan sebagai bandara penerbangan perintis pada tahun 2014 untuk digunakan sebagai penerbangan perintis. (Newssatu/anwar)

Ibu Nurhayati Tak Pernah Patah Semangat dan Putus Asa
Prinsip Tanpa Takut Gagal Adalah Keindahan

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Ibu Nurhayati
Banyak orang mengatakan bahwa usaha adalah suatu cara atau jalan menuju yang diinginkan. Dan manusia tidak terlepas dari proses usaha. Diam sekalipun masih bisa dikatakan sebagai usaha, dengan catatan diamnya adalah berpikir. Tak ada yang tak bisa dilalui dengan usaha ketika diiringi dengan niat yang baik dan doa yang tulus. 

Sudah sering pula terdengar diberbagai kalimat, bahwa doa tanpa usaha omong kosong dan usaha tanpa doa adalah sombong. Usaha yang sejalan dengan semangat yang ditopang oleh kemampuan yaitu potensi dan kreativitas akan terwujud sebuah proses penerimaan dalam menjalani kehidupan
Usaha tidak harus banyak dengan hitung-hitungan angka dan segala macam pernak-pernik permodalan. Dengan berpikir bahwa ini tidak dengan tinggal diam atau berpangku tangan adalah modal yang sangat besar untuk mewujudkam sebuah usaha. Dan sesuatu yang sangat bermakna dalam kata sukses yaitu usaha yang dimulai dari titik nol hingga menghasilkan angka-angka lebih tinggi dari nol. 

Dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal terkecil begitu banyak berserakan, tinggal bagaimana sumber daya manusia itu sendiri pandai-pandai memilah dan memilih untuk memulai memacu potensi dan kreativitas. Paling gampang disekitar kita, yaitu dengan daya otak dan nalar menjadikan sesuatu yang biasa menjadi sebuah sesuatu yang luar biasa, atau paling tidak menjadi sesuatu yang menghasilkan keuntungan. 

Contoh kecil saja, melihat daun sayur mayur, ubi-ubian, buah-buahan dan sebagainya. Apabila itu diolah dengan pengembangan yang tidak seperti olahan pada umumnya, sudah bisa dikatakan mencoba usaha olahan bahan sama tapi beda model serta rasanya. Prinsipnya mencoba tanpa takut gagal adalah keindahan daripada tidak sama sekali. 

Zaman yang semakin canggih menuntut untuk inovasi-inovasi kreativitas. Sekalipun usaha pada umumnya juga dituntut untuk meningkatkan kualitas. Karena usaha dan rasa tak bisa terpisahkan untuk menghasilkan keuntungan dan kesuksesan yang ingin dicapai. 

Belajar dan terus belajar pada realitas disekitar yang memberi inspirasi kemajuan, akan menjadikan diri tidak berpangku tangan dengan segala keluh kesah dan mimpi-mimpi belaka. Dan kodrat alam itu bahwa manusia yang menanam, maka ia yang akan memetik buahnya. 

Salah satu produk yang dihasilkan
Dalam persaingan dan pergulatan hidup ini, memaksa realitas harus bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas dan bekerja tuntas yang kebalikannya bukan bekerja malas. Seperti kebanyakan orang bilang, tidak ada makan siang gratis. Namun bukan berarti juga harus dipaksakan. 

Berbicara usaha, tentu banyak sekali macam dan jalannya. Ada usaha yang dilakukan mandiri dan ada pula yang dilakukan secara bersama-sama. Usaha disini adalah usaha yang menghasilkan keuntungan. Dan tulisan ini mengurai sebuah yang dikelola dari rumah sendiri yaitu usaha home industri skala kecil atau menengah kebawah.

Saronggi merupakan kecamatan yang yang ada di kabupaten Sumenep. Kecamatan Saronggi dikenal dengan daerah yang melahirkan budaya seni yaitu ludruk atau ketoprak yang berasal dari desa Tanjung Saronggi. Orang Sumenep pasti mengenal Rukun Family dan Rukun Karya sebagai ludruk yang paling populer di kabupaten Sumenep. Namun ada juga kecamatan lain seperti Kalianget. 

Saronggi juga satu-satunya daerah yang angkutan transportasinya masih tetap menggunakan moda yang lama yaitu pick up chevroolet dan sampai sekarang masih ada. Pun juga Saronggi menjadi daerah yang menjadi pintu masuk menuju pantai sembilan dipulau Gili Genting yaitu melewati pelabuhan Tanjung Saronggi. 

Di sebuah Dusun Paddeg Desa Saroka Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep bisa kita temukan usaha home industri yang dikelola oleh warga. Berbagai macam usaha olahan makanan yang dikerjakan, mulai macam-macam kue, jajan, kripik, krupuk dan sebagainya.

Ibu Nurhayati yang berusia 50 tahun lebih salah satu orang di dusun tersebut yang melakukan usaha home industri. Usaha berupa olahan makanan ringan seperti kripik dari berbagai buah antara lain singkong, ketela dan sukun sudah dirintis sejak sepuluh tahun yang lalu, sekitar tahun 2000.

Awalnya ibu Nurhayati dilakukan sendiri, setelah berjalan lancar meski mengikuti arus musim alias musiman memanfaatkan tetangga sekitar untuk bisa bekerja sebagai karyawan. Semangat yang tinggi meyakini ibu Nurhayati bahwa sesuatu yang dilakukan selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, bisa juga untuk mwmbantu orang lain mendapatkan penghasilan sampingan.

Dunia bisnis itu tak jauh beda dengan air laut, pasang surut sudah biasa terjadi dan dialami para pelaku bisnis. Disaat usaha laris manis tentunya bukan hanya ibu Nurhayati yang senang, melainkan para karyawan bisa bersemangat bekerja. 

Salah satu produk yang dihasilkan
Dalam sehari ibu Nurhayati bisa menghasilkan keuntungan kurang lebih 150 ribu. Namun bila bahan dasar menipis atau habis atau juga busuk, biasanya hasil juga berkurang. Dan ibu Nurhayati tidak mengejar bahan harus ada terus dan tersedia, tetapi ia mengikuti musim yang ada. Kala musim pisang, olahan pisang yang digarap, musim ubi-ubian dan lainnya, bahan itulah yang diolah. 

Ibu Nurhayati untuk mendapatkan bahan dasar harus mencari ke pasar kabupaten yaitu pasar Anom Sumenep. Memilah dan memilih bahan dasar untuk menjaga kualitas olahan adalah yang utama bagi ibu Nurhayati. Ibu Nurhayati berkeyakinan hanya dengan menjaga kualitas khusus bahan dasar dan rasa mampu meningkatkan daya beli konsumen. 

Bila berbisnis penuh dengan rekayasa atau tipu daya, maka jangan harap keuntungan dan kesuksesan bisa dimiliki. Sedikit keuntungan tapi dengan cara yang realistis akan lebih bernilai daripada banyak keuntungan tapi dengan cara-cara tidak baik. 

Ibu Nurhayati tidak pernah patah semangat dan putus asa, ini dibuktikan dengan sampai detik ini usaha home industrinya masih terus berjalan. Sudah sekitar 18 tahun lebih dijalani dan ditekuni. Ibu Nurhayati hanya melayani dengan cara olahan itu dikirim ke pasar kabupaten, ada juga yang beli langsung ke rumahnya dan ada juga yang melalui via online yang lagi marak dengan dibantu putra putrinya. 

Tentu selama itu ibu Nurhayati tidak luput dengan suka duka dan untung rugi. Tapi tekun dan telaten serta dijalani dengan ikhlas usahanya tak lekang oleh waktu. Dan yang utama adalah kualitas dari hasil olahan itu yang terus dijaga hingga kini. Dan ibu Nurhayati sudah paham betul bahan dasar yang berkualitas dari daerah mana saja. Seperti buah sukun, ibu Nurhayati lebih memilih yang dari daerah Talango dan Sepudi, karena daerah itu sukunnya lebih bagus dari daerah lainnya. 

Ibu Nurhayati tidak memberikan nama atau label dalam usaha home industrinya, bukan berarti tidak berusaha untuk mendaftarkan. Sudah sering dilakukan dan sering mencoba, namun selalu gagal yang didapatkan. Bagi ibu Nurhayati yang terpenting usahanya berguna untuk kebutuhan sehari-hari dan berguna bagi orang lain terutama tetangga sekitar adalah lebih dari cukup. 

Dan bisa diketahui, di dusun Paddeg desa Saroka tidak sedikit warga memiliki usaha home induatri dengan berbagai macam olahan makanan. Ini merupakan semangat yang harus dikembangkan dan bisa dicontoh oleh kita semua. Bahwa jangan lelah untuk terus berusaha dan berusaha. 

Bagaimanapun juga Tuhan pasti selalu memberi jalan pada hambanya yang berusaha dengan jalan dan cara yang baik dan benar. Karena niat dan doa yang ikhlas tidaklah ada yang sia-sia. Semoga kita semua bisa terinspirasi dari apa yang ibu Nurhayati lakukan. 

Penulis: Moh. Rasul Mauludi

Editor : Syaf


Dramawan Sumenep Akan Tampil di Borobudur Writers & Cultural Festival 2018

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 02 November 2018 |

Para pemain "Menjahit Kertas"
Madura_Aktual; Sumenep: “Anak Desa”, kerap disebut-sebut sebagai orang pinggiran, terbelakang, ndeso  dan bahkan “tidak modern”. Idiom itu tentu tidak selalu benar, karena dalam kondisi tertentu justru anak desa inilah kerap melampaui kemampuan orang kota.

Hal ini dibuktikan oleh dramawan Anwari  yang nantinya hadir dan tampil di Borobudur Writers & Cultural Festival 2018, 22-25 November 2018, dengan mengusung tatengghun “Menjahit Kertas”. Kepala suku Sakte Teater Padepokan Seni Madura ini, juga akan memboyong kerabat dekatnya, seperti saudaran sepupu, paman, bahkan ada sang guru perempuan serta sejumlah kerabat lainnya terlibat dalam pertunjukan ini.

“ Anak2 desa yang tidak mengerti tentang teater yang mereka tahu hanya latihan dan pentas, kami aktor desa bukan aktor kota, ungkapan itu ingin menjadi sebuah pembeda dalam intensitas daya juang,”, ungkap Anwari pada saya.

Dikatakannya, di desanya latihan bersama keluarga, namun disiplin, disiplin waktu, disiplin sikap, dan disiplin pikiran. “Kesungguhan dari setiap personil tidak dengan kata-kata atau retorika. Yang ada lakukan”

“Karena kami aktor desa, kami memahami desa dan diri sendiri, melebihi tafsir maupun ekspektasi pikiran orang2 kota atau oarang diluar desa. Yang selalu menafsir lebih tentang kami, maka kami adalah pelaku kesenian yang tumbuh dari dalam dan bergerak diluar”.

Demikian pengakuan Anwary yang bermukim di dusun Blowar, desa nyapar, Kec. Dasuk, Sumenep, Madura.

Dalam pertunjukan bergengsi ini tentu Anwari tidak sendirian. Sejumlah seniman dan penyair beken turut tampil bersama, ada penari Melati Suryodarmo & Katsura Kan (Jepang), Ery Mefri, Djarot S Darsono Taksu, Yusril Katil, Cok Sawitri, Miroto, Tomy Broer & Katia Engel (Jerman), Bimo Wiwohatmo

Hadir pula nanti penyair Shivram Gopinath (Singapura), Zahid M Nazer, Arie B Prasetyo (anak BMS yang kini menetap di Bali), Taufik Ikram Jamil serta pertunjukan lainnya dari beberapa daerah.

“Menjahit Kertas” merupakan sebuah pertunjukan yang menggabungkan teater tubuh, musik tong tong, dan memori-memori akan sejarah tubuh ini pimpinan produksi dipimpinan Elyda K. Rara, Sutradara: Anwari; Artistik: H. Abdul Aziz | M. Syafi’i | Hermanto dan pemain: Moh. Irwan Sudarmaji | Samsudin | Sisriyadi | Maulinda Agustini | Hariyanto | Anton (syaf)


Pengembangan Pariwisata Sumenep, Serahkan pada Swasta

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 13 September 2018 |

H. Masdawi
Madura_Aktual, Sumenep: Program Visit Sumenep 2018 Madura, Jawa Timur (Jatim) yang dicanangkan oleh Pemerintah setempat, diharapkan berdampak pada masyarakat maupun perkembangan wisata.

Namun tampaknya kesiapan pemerintah menyambut tahun wisata belum siap secara matang sampai menjelang tutup tahun 2018 ini.

Terbukti, dua lokasi wisata yang sempat menjadi wisata favorit di tahun 90-an, hingga saat ini masih tetap tidak ada perkembangan, yakni Pantai Wisata Lombang dan Slopeng. Padahal, Wisata Lombang merupakan penyumbang PAD terbesar, akan tetapi dibiarkan begitu saja dan pada saat ini mulai berkurang pengunjungnya.

“Apa dampak dari program Visit 2018, gak ada. Baik pada masyarakat Sumenep maupun terhadap perkembangan wisata Lombang dan Slopeng,” ujar H. Masdawi, Politisi dari DPC Partai Demokrat Sumenep, Kamis (13/9/2018).

Hal ini membuktikan, jika Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep tidak serius untuk mensukseskan program visit 2018, dan mengembangkan pariwisat di Kabupaten yang berada di ujung timur pulau garam Madura.

“Itu semua terjadi karena tidak ada tim khusus yang menangani Pariwisata, padahal sejak awal saya sudah mengusulkan hal itu, akan tetapi di dengarkan oleh Pemkab Sumenep,” tandas Anggota Komisi II DPRD Sumenep ini.

Menurut Masdawi, Tim Khusus ini akan mengurusi berbagai persoalan teknis kepariwisataan, dari semua sektor. Pengembangan infrastruktur, fasilitas dan inovasi kegiatan lainnya.
“Pengembangan Pariwisata Sumenep akan berjalan dengan cepat, dan anggaran yang dikeluarkan tepat sasaran, jika ada Tim Khusus (Timsus) Pariwisata,” tukasnya.

“Jika ada Timsus, Pemkab tidak perlu bingung untuk membangun pariwisata Sumenep,” ungkapnya.

Namun, jika Pemerintah tidak ingin membentuk Timsus, sebaiknya menggandeng pihak ketiga atau pihak swasta dalam pengembangan pariwisata di Sumenep. Sehingga, dalam pengembangannnya diserahkan pada Swasta, akan tetapi meski di serahkan kepada swasta, tidak bolah meninggalkan kearifan lokal.

“Serahkan ke Swasta saja, lalu mereka diwajibkan menyetorkan PAD pada Pemerintah Daerah. Tapi, meski diserahkan ke swatas tidak boleh meninggalkan kearifan lokal, dan ini Pemerintah harus benar-benar melakukan pengawasan,” pungkasnya. (*/news1)

Stres?. Begini Mengatasinya

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 29 August 2018 |

Stres, mengalami suasana hati buruk, atau merasa sedih atas kejadian yang kita alami adalah wajar. Hal itu karena manusia hidup berdampingan dengan hal-hal tersebut.

Hanya saja, apabila kondisi ini terus berlangsung hingga dua minggu ditambah keluhan lain seperti sulit berkonsentrasi, merasa masa depan suram, hingga ada keinginan bunuh diri, maka waspadalah karena ini mengarah pada depresi.

"Depresi itu ada tiga gejala utama yakni mood turun, energi hilang dan kehilangan minat. Lalu ditambah gejala tambahan seperti sulit berkonsentrasi, merasa masa depan suram, ada keinginan untuk bunuh diri, dan gejala menetap selama dua minggu," ujar psikiater dari Asosiasi Psikiatri Indonesia wilayah DKI Jakarta, Dr. Eva Suryani, Sp.KJ dalam Media Gathering Share Your Feelings di Jakarta, Rabu (29/8).

Agar tak menjadi depresi, Eva menekankan pentingnya mengatur stres dan suasana hati agar tak terus menerus memburuk. Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah menyadari kekurangan dan kelebihan diri.

"Saya punya keterbatasan ini, kelebihan ini. Lalu kalau saya punya harapan lalu tidak bisa terpenuhi saya harus turunkan ekspektasi harapan itu," kata dia.

Sebaiknya pahami gejala dini stres dan penyebab Anda mengalaminya. Dalam hal ini Anda membutuhkan kemampuan beradaptasi yang baik agar mampu menghadapi kondisi yang tak sesuai harapan Anda.

Kalaupun kondisi itu berkembang menjadi depresi ringan, mencurahkan isi hati pada seseorang yang Anda percaya bisa menjadi membantu. Apabila Anda merasa malu dan tak percaya pada orang lain, sekedar menulis isi hati pada buku harian bukan ide buruk.

"Untuk ringan, curhat sudah membantu karena kita merasa didengarkan, atau melalui tulisan misalnya menulis di buku diary. Itu bisa menjadi bentuk ekspresi, apalagi kalau Anda takut cerita Anda tersebar, khawatir di-judge," tutur Eva.

Jika tidak, Anda mencoba bercerita pada psikiater melalui aplikasi. VP Marketing Halodoc, Felicia Kawilarang mengatakan aplikasi chat bisa membantu orang yang masih merasa malu bercerita soal kondisi psikologisnya pada ahli kesehatan.

"Banyak orang masih malu datang sendiri ketemu psikolog, psikiater bisa chat. Ini untuk penanganan pertama saja. Kebanyakan orang yang malu, senang mengobrol dengan orang (ahli kesehatan) yang nggak dikenalnya," tutur dia dalam kesempatan yang sama.

Namun, jika gejala semakin berat maka meminta pertolongan psikiater menjadi rekomendasi Eva. Gejala itu seperti adanya dua hingga tiga gejala utama ditambah empat gejala tambahan semisal hilang minat untuk melakukan kegiatan yang biasanya disenangi, susah konsentrasi, pandangan masa depan suram dan gagasan untuk bunuh diri, dan ini berdampak nyata pada kehidupan,

"Kalau gejala makin berat sebaiknya tatap muka langsung," saran Eva yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya itu.

Sumber : Antara

   

Sukses Karena Usahanya Sendiri

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: 26 June 2018 |

Segar dari awal memang dikenal sangat rajin dan taat dalam urusan ibadah. Lima waktu yang menjadi kewajiban tidak pernah ditinggalkan walau sesibuk apapun yang dikerjakan dalam kesehariannya. Kebisuan tak menjadi penghalang baginya untuk tunduk dan patuh pada perintah yang maha kuasa.

Dengan penuh keyakinan dihatinya, yakin akan kekuasaan dan kehendak Tuhan, yakin akan kemurahan Tuhan dalam menabur rizkinya. Akhirnya hasil dari menabung dari awal memberi berkah pada seorang Segar. Setelah mendaftar nama Segar sudah masuk pada daftar tunggu calon jemaah haji dari Indonesia. Kemudian di tahun 2015 Segar melaksanakan ibadah haji dengan sempurna.

Terkadang ada rasa tidak percaya dibenak orang-orang sekitar melihat kesuksesan Segar dengan usahanya sendiri mampu menunaikan ibadah haji. Karena melihat sisi keterbatasan yang dimiliki Segar. Namun Tuhan maha segalanya dan maha berkendak atas manusia dimuka bumi ini. Bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin atas kehendaknya.

Selesai mewujudkan impiannya untuk berhaji, kini Segar ingin mewujudkan impian lainnya yaitu bagaimana bisa sama dengan orang-orang di kampungnya dalam berkeluarga dan memiliki keturunan. Dari segi fisik Segar sama dengan orang normal pada umumnya. Hanya bisu saja yang mungkin menjadi kekurangannya.

Lilik seorang wanita yang dipilih oleh Segar dan atas persetujuan semua keluarga, akhirnya Segar dan Lilik resmi dinikahkan seperti layaknya pernikahan yang dilaksanakan di kampungnya. Gayung bersambut, cinta keduanya menyemai asmara dalam bangunan rumah tangga sakinah mawaddah warahmah.

Meski seorang Lilik memiliki keterbatasan berbeda dengan Segar, namun Lilik mampu menjadikan Segar sebagai imam dalam hidupnya. Saling melengkapi kekurangan dan keterbatasan yang ada adalah kebahagiaan tersendiri bagi keduanya.

Lilik tidak bisu, namun Lilik dalam hal pendengaran tidaklah sempurna. Tuli, yach lilik seorang wanita yang tuli. Namun Segar ikhlas menerimanya sebagai istri, sebaliknya Lilik pun ikhlas menerima Segar sebagai suami meski bisu.

Cinta bisu dan cinta tuli bukanlah hal yang dipertentangkan atau dipisahkan. Segar dan Lilik bisa membuktikan bahwa mereka bisa bahagia lahir dan batin. Cinta Segar yang bisu menancap indah pada pusaran Surga yang ada pada cinta Lilik yang tuli. Akhirnya selamat berbahagia untuk Segar dan Lilik. Kalian berdua adalah inspirasi hidup tentang keterbatasan-keterbatasan dan kehendak Tuhan.

Penulis :Moh. Rasul Mauludi 
Editor  : Syaf 

******

Tulisan bersambung

Segar; Cinta Bisu Cinta Tuli
Meski Bisu, Namun Memanfaatkan Pikirannya
Sukses Karena Usahanya Sendiri


 

Meski Bisu, Namun Memanfaatkan Pikirannya

Diposting oleh: Pustaka Madura pada tanggal: |

Dengan suara yang tidak banyak, bisa dikatakan hanya satu kata yang digunakan sepanjang hidupnya yaitu "eehhh". Kata itulah yang mampu Segar suarakan pada siapapun. Untuk bisa membuat orang lain bisa memahami Segar pun memberi gerakan-gerakan pada anggota tubuhnya, seperti tangan, kepala, kaki ataupun menunjuk sesuatu apa yang dimaksudkan lawan bicaranya. Begitu juga orang yang mau berkomunikasi dengan Segar, mereka menggunakan isyarat tubuh untuk bisa dipahami Segar. Yach begitulah seorang Segar yang berjualan melayani dan berkomunikasi dengan para pembelinya.

Makanan ringan, minuman, nasi dan lainnya menghiasi warung Segar yang sudah besar. Seorang diri melakukan rutinitas di warungnya tidak membuatnya patah semangat. Memasak sendiri, meracik bumbu sendiri, semua serba dilakukan dengan seorang diri.

Segar memang bisu sejak kecil, namun Segar bisa melakukan sesuatu layaknya orang yang sempurna. Segar memanfaatkan akal pikirannya, sehingga meski bisu Segar berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Segar mampu membaca dengan tulisan dan angka-angka. Kecerdasannya dimanfaatkan untuk lancarnya komunikasi dan berjualan di warungnya. Bisa membaca lewat tulisan dan berhitung tentunya tidak sesempurna orang normal pada umumnya, namun adanya sedikit kemampuan akan itu lebih memudahkan urusannya.

Memahami angka-angka membuatnya mampu mengkalkulasi semua keuangannya. Memahami tulis menulis membuatnya mampu menunjukkan maksud lawan bicaranya dalam bentuk tulisan. Jadi Segar tinggal ambil pensil menulis yang dimaksud kemudian ditunjukkan pada orang mungkin belum paham dengan isyarat yang diperagakan.

Tuhanpun tidak tinggal diam pada seorang Segar yang ditakdirkan harus bisu. Tuhan memberi kelebihan-kelebihan pada setiap hambaNya yang dikehendakiNya. Hanya hamba-hamba yang ikhlas berusaha dan berdoa serta bersyukur akan menjadi pilihan Tuhan untuk memberi kehendakNya pada hambanya.

Mungkin karena bisu, orang-orang disekitar Segar tidak memanggilnya dengan nama Segar, melainkan memanggil dengan panggilan Pepe. Tapi bagi Segar mau dipanggil apa saja tidak mungkin dihiraukan karena memang tidak tahu kalau dupanggil Pepe. Segar akan menoleh bila dipanggil dengan sentuhan (dicolek) dan akan nyambung dengan isyarat-isyarat yang ditunjukkan oleh lawan bicaranya.

Kini Segar sudah bisa dikatakan lebih mapan hidupnya daripada sebelumnya yang masih tertatih-tatih merintis usahanya. Kini materi sudah lebih dari cukup bahkan menabung untuk mewujudkan impiannya yaitu berhaji ke tanah haram. Meski bisu Segar pun berkeinginan bisa menunaikan ibadah haji.

Penulis :Moh. Rasul Mauludi 
Editor  : Syaf 

******

Tulisan bersambung

Segar; Cinta Bisu Cinta Tuli
Meski Bisu, Namun Memanfaatkan Pikirannya
Sukses Karena Usahanya Sendiri


 

Wisata dan Hiburan

Jurnalisme Warga

Budaya Madura

Lihat seluruh kategori Budaya Madura»

Wisata Madura

Lihat seluruh kategori Wisata Madura»

Dunia Wanita

Lihat seluruh kategori Dunia Wanita»

Hidup Sehat

Lihat seluruh kategori Hidup Sehat»

Akar Rumput

Lihat seluruh kategori Akar Rumput»

Kiat Kreatif

Lihat seluruh kategori Kiat Kreatif»