Madura Aktual, Angka kriminalitas yang dilakukan kaum pelajar kian hari makin memprihatinkan. Menurut data Unit Remaja, Anak dan Wanita Polda Jatim, yang menempati peringkat pertama dalam kasus kriminalitas yang melibatkan anak dan remaja, adalah kasus persetubuhan. Sementara berada diranking kedua dan ketiga, adalah kasus percabulan dan kasus penganiayaan.
Data yang pernah dirilis oleh Telepon Sahabat Anak (TeSA) 129 Jatim maupun HotLine Pendidikan Jawa Timur, juga menunjukkan gambaran yang sama tentang kasus kriminalitas yang melibatkan anak dan remaja.
Tertangkapnya beberapa artis remaja dalam kasus narkoba oleh BNN, sejumlah kasus pesta miras yang melibatkan siswa, beragam berita pembegalan yang dilakukan sejumlah remaja, serta peristiwa tawuran antar pelajar, menambah panjang deretan daftar kriminalitas yang melibatkan anak dan remaja.
“Miris dan sangat memprihatinkan,” tukas Drs. Istiqlal Arif Lazim.
Menurut Direktur Perguruan Al Irsyad Surabaya ini, tren penyimpangan perilaku yang dilakukan pelajar dari tahun ke tahun memang semakin meningkat. Sebab anak-anak zaman sekarang memiliki akses informasi lebih bagus dan lebih cepat.
“Internet, tontonan televisi, HP, hingga tayangan hiburan lainnya secara live telah mempengaruhi karakter kepribadian kaum remaja saat ini,” terangnya.
“Yang sangat disayangkan, semua itu disajikan tanpa filter yang kuat, sehingga harus mencerabut identitas budaya bangsa sendiri,” ujarnya.
Globalisasi yang ditunjang dengan derasnya laju teknologi informasi, menjadikan manusia di seluruh belahan bumi bisa saling berinteraksi dan bertukar gagasan tanpa batas ruang dan waktu.
“Kini kita tak lagi mengenali karakter desa dan kota, mana orang yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Sebab, baik cara berpakaian, berpikir, bahkan cara dia berbicarapun hampir tak jauh beda,” selorohnya sembari menyungging senyum.
Yang dia sayangkan, perubahan itu tak dibarengi dengan benteng diri yang kuat. Sehingga tak sedikit orang yang terseret laju roda peradaban. “Maka yang terjadi sekarang adalah, baik buruk tidak lagi dilihat dari ukuran sosial, tapi sudah menjadi urusan masing-masing individu,” kata ayah satu anak ini.
“Anak-anak kini mudah saja meniru apa yang dilihatnya dari media-media tersebut tanpa ada filter sama sekali. Ini sangat memprihatinkan,” tandasnya.
Tak hanya identitas budaya bangsa yang tercerabut, tapi juga karakter nilai keagamaan dalam diri seseorang yang terenggut. Yang dianut masyarakat, bukan lagi tuntutan agama, melainkan modernitas yang glamour. Sebagai pendidik, apalagi di lingkungan sekolah berbasis keagamaan, terang alumni Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Surabaya ini, kita mesti prihatin.
“Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membimbing para siswa, kembali pada spirit dan tanggung jawab sebagai seorang Muslim,” tukasnya.
“Ini harus dimulai dari keluarga kita masing-masing, karena itu adalah hal yang mendasar. Dan itu adalah pendidikan keteladanan,” tandasnya menambahkan.
Oleh karena itu, para pendidik maupun orangtua, agar lebih hati-hati dan mewaspadai tumbuh kembang anaknya. Cara terbaik untukmembentuk karakter akhlakul karimah, adalah kita harus bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita.
“Salah satu caranya, dengan mengajak anak-anak kita untuk selalu mengikuti shalat jamaah, baik di sekolah maupun di rumah,” kata alumni pondok pesantren Maskumambang Dukun Gresik ini.
Pendidikan keagamaan, paparnya, harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. “Salah itu wajar. Tapi harus berani bertanggung jawab dan menerima resiko,” tukasnya.
“Jika pondasi keagamaan bisa mendasari kita dalam menjalani hidup, insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat,” tandasnya. (Dedy/san)
Data yang pernah dirilis oleh Telepon Sahabat Anak (TeSA) 129 Jatim maupun HotLine Pendidikan Jawa Timur, juga menunjukkan gambaran yang sama tentang kasus kriminalitas yang melibatkan anak dan remaja.
Tertangkapnya beberapa artis remaja dalam kasus narkoba oleh BNN, sejumlah kasus pesta miras yang melibatkan siswa, beragam berita pembegalan yang dilakukan sejumlah remaja, serta peristiwa tawuran antar pelajar, menambah panjang deretan daftar kriminalitas yang melibatkan anak dan remaja.
“Miris dan sangat memprihatinkan,” tukas Drs. Istiqlal Arif Lazim.
Menurut Direktur Perguruan Al Irsyad Surabaya ini, tren penyimpangan perilaku yang dilakukan pelajar dari tahun ke tahun memang semakin meningkat. Sebab anak-anak zaman sekarang memiliki akses informasi lebih bagus dan lebih cepat.
“Internet, tontonan televisi, HP, hingga tayangan hiburan lainnya secara live telah mempengaruhi karakter kepribadian kaum remaja saat ini,” terangnya.
“Yang sangat disayangkan, semua itu disajikan tanpa filter yang kuat, sehingga harus mencerabut identitas budaya bangsa sendiri,” ujarnya.
Globalisasi yang ditunjang dengan derasnya laju teknologi informasi, menjadikan manusia di seluruh belahan bumi bisa saling berinteraksi dan bertukar gagasan tanpa batas ruang dan waktu.
“Kini kita tak lagi mengenali karakter desa dan kota, mana orang yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Sebab, baik cara berpakaian, berpikir, bahkan cara dia berbicarapun hampir tak jauh beda,” selorohnya sembari menyungging senyum.
Yang dia sayangkan, perubahan itu tak dibarengi dengan benteng diri yang kuat. Sehingga tak sedikit orang yang terseret laju roda peradaban. “Maka yang terjadi sekarang adalah, baik buruk tidak lagi dilihat dari ukuran sosial, tapi sudah menjadi urusan masing-masing individu,” kata ayah satu anak ini.
“Anak-anak kini mudah saja meniru apa yang dilihatnya dari media-media tersebut tanpa ada filter sama sekali. Ini sangat memprihatinkan,” tandasnya.
Tak hanya identitas budaya bangsa yang tercerabut, tapi juga karakter nilai keagamaan dalam diri seseorang yang terenggut. Yang dianut masyarakat, bukan lagi tuntutan agama, melainkan modernitas yang glamour. Sebagai pendidik, apalagi di lingkungan sekolah berbasis keagamaan, terang alumni Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Surabaya ini, kita mesti prihatin.
“Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membimbing para siswa, kembali pada spirit dan tanggung jawab sebagai seorang Muslim,” tukasnya.
“Ini harus dimulai dari keluarga kita masing-masing, karena itu adalah hal yang mendasar. Dan itu adalah pendidikan keteladanan,” tandasnya menambahkan.
Oleh karena itu, para pendidik maupun orangtua, agar lebih hati-hati dan mewaspadai tumbuh kembang anaknya. Cara terbaik untukmembentuk karakter akhlakul karimah, adalah kita harus bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita.
“Salah satu caranya, dengan mengajak anak-anak kita untuk selalu mengikuti shalat jamaah, baik di sekolah maupun di rumah,” kata alumni pondok pesantren Maskumambang Dukun Gresik ini.
Pendidikan keagamaan, paparnya, harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. “Salah itu wajar. Tapi harus berani bertanggung jawab dan menerima resiko,” tukasnya.
“Jika pondasi keagamaan bisa mendasari kita dalam menjalani hidup, insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat,” tandasnya. (Dedy/san)
Tags:
Fokus
