Abrari Alzael
Pelayanan publik sejumlah instansi terkait dengan kepatuhan terhadap UU25/2009 tentang pelayanan publik masih memprihatinkan. Dalam skala global, 42,9% unit pelayanan di 18 kementerian belum memenuhi standar. Dan 18 kementerian yang disurvei, terdapat 5 kernenterian masuk kategori merah, 4 tergolong hijau, dan 9 lainnya masuk kategori kuning.
Itulah gam.baran penyelenggaraan negara pada tingkatan pusat. Pada level menengah ke bawah, angkanya sudah bisa diterka. Setidaknya setara atau hahkan lehih parah. Kekurangan dalam memberikan layanan publik itu karena dua hal, kelalaian dan mernang sengaja diciptakan. Dalarn hal pelayanan publik mi, pejabat publik tidak berusaha rnenaati aturan karena merasa lebih senang mencari celah. Jika publik menerirna diperlakukan seperti itu, tentu ia sabar. Jika publik tidak sabar, pasti bayar. Di sinilah ruang itu sengaja diciptakan untuk kepentingan din sendiri.
Oleh karena itu, pejabat atau bukan pejabat, pekerjaan di sektor publik menuntut inovasi agar publik tidak diperlakukan sebagai seseorang yang sabar menanti untuk sesuatu yang bisa dilakukan cepat. Tetapi inilah wajah republik saat ini dimana hal yang mudah di birokrasi dibuat berkelok dan berliku-liku. Padahal, masyarakat sudah stres menghadapi hidup dan begitu berurusan dengan birokrasi dibuat lebih stres karena —misalnya, o kn urn birokrasi lebih su ka rnerumitkan yang mudah.
Itulah gam.baran penyelenggaraan negara pada tingkatan pusat. Pada level menengah ke bawah, angkanya sudah bisa diterka. Setidaknya setara atau hahkan lehih parah. Kekurangan dalam memberikan layanan publik itu karena dua hal, kelalaian dan mernang sengaja diciptakan. Dalarn hal pelayanan publik mi, pejabat publik tidak berusaha rnenaati aturan karena merasa lebih senang mencari celah. Jika publik menerirna diperlakukan seperti itu, tentu ia sabar. Jika publik tidak sabar, pasti bayar. Di sinilah ruang itu sengaja diciptakan untuk kepentingan din sendiri.
Oleh karena itu, pejabat atau bukan pejabat, pekerjaan di sektor publik menuntut inovasi agar publik tidak diperlakukan sebagai seseorang yang sabar menanti untuk sesuatu yang bisa dilakukan cepat. Tetapi inilah wajah republik saat ini dimana hal yang mudah di birokrasi dibuat berkelok dan berliku-liku. Padahal, masyarakat sudah stres menghadapi hidup dan begitu berurusan dengan birokrasi dibuat lebih stres karena —misalnya, o kn urn birokrasi lebih su ka rnerumitkan yang mudah.
Suatu ketika, di rurnah sakit dan sejumlah puskesmas, keluarga pasien kaget saat model penyapaan staf di rumah sakit dan puskesmas ini tidak ramah. Resepsionis itu perlu menyapa dengan kalimat yang santun agar pasien dan keluarganya tidak sok. Tetapi bila sapaan itu kasar, secara psikologi baik pasien maupun keluarga terganggu dan bisa semakin sakit. Ini soal hal yang sederhana, tetapi ternyata yang sederhana pun rnasih sulit untuk dilakukan. Maka lengkapiah penderitaan anak bangsa; di persaingan ekonomi terhimpit, di birokrasi tertindas, di parlemen tertindih, atau inikah new barbarisme itu?
Ada baiknya, layanan publik ditingkatkan sekurang kurangnva tidak membuat jengkel publik. Ada pendelegasian pekerjaan yang pasti dan atasan ke bawahan. Sehingga bawahan inovatif dan tidak menutupi ketidakrnampuannya dalam hal melayani pubi ik dengan menuduhkan semua pekerjaan kepada itasannya. Begitu pula publik harus mernahami bila sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan hawahann.ya karena hal dirnaksud bukan domain bawahan.
Tetapi lihatlah di instansi, saat warga masuk ke ruang tamu, sejumlah wajah resepsionis kurang santun dan menyerangap begitu saja tanpa beban. Terutama, tamu-tamu dan sisi performance tidak menampilkan visual yang berpendidikan dan tak kaya pula. Padahal, orang-orang serupa mi banyak populasinya yang tidak mengerti bahwa dirinya seolah-olah dianggap ada pada saatpe milukada. Salam dan kelompok musik Noah kepada birokrat yang membuat rumit hal yang mudah; cobalah mengerti! (8 Nopember 2013)
Disalin dari buku Republik Sengkuni/2014
Tags:
Serpihan